يَا رَبَّنَا بِجَاهِ تَاجِ الْعَارِفِيْنَ ï وَجَاهِ حَامِلِ لِوَاءِ الْوَاصِلِيْنَ

Ya Allah, Ya Tuhan kami dengan pangkat kebesaran pemilik mahkota ahli ma'rifah dan pangkat pemegang bendera kelompok manusia yang telah wushul (sampai ke puncak keyakinan)


قُدْوَتِنَا وَشَيْخِنَا التِّجَانِي ï قَائِدِنَا لِمَنْهَجِ الْعَدْنَانِي

Panutan dan guru kami yakni Syekh Ahmad Tijani, seorang pemandu yang menyampaikan kami kepada tuntunan Nabi Muhammad

يَا رَبِّ ثَبِّتْنَا عَلَى اْلإِيْمَانِ ï وَاحْفَظْ قُلُوْبَنَا مِنَ الْكُفْرَانِ

Ya Tuhanku tetapkan kami atas iman dan jaga hati kami dari segala bentuk kekufuran

وَاحْمِ جَمِيْعَنَا مِنَ الشَّيْطَانِ ï وَحِزْبِهِ مِنْ إِنْسٍ أَوْ مِنْ جَانِّ

Lindungi kami dari kejahatan syetan dan kelompoknya dari bangsa manusia dan jin


نَسْأَلُكَ التَّوْبَةَ وَالتَّوْفِيْقَ ï وَالْعِلْمَ وَالْعَمَلَ وَالتَّحْقِيْقَ

Kami mohon kepada-Mu taubat dan mendapat kekuatan untuk melakukan kebaikan, ilmu dan pengamalan serta ketepatan dalam segala hal


وَالصَّبْرَ وَالنَّصْرَ عَلَى اْلأَعْدَاءِ ï وَالْجَمْعَ فِي الذِّكْرِ عَلَى الْوِلاَءِ

Berikan kami kesabaran dan kemenangan atas musuh-musuh. Dan jadikan kami selalu berkumpul bersama dalam melakukan dzikir


وَالْفَوْزَ بِالنَّعِيْمِ فِي الْجِنَانِ ï مَعَ النَّبِيّ وَشَيْخِنَا التِّجَانِي

Mendapat kesuksesan dengan mendapat ni'mat di surga bersama Nabi Muhammad dan guru kami Syekh Ahmad Tijani


مَا لَنَا فِي الْكَوْنِ سِوَى الرَّحْمَانِ ï وَالْمُصْطَفَى وَشَيْخِنَا التِّجَانِي

Kami tidak memiliki harapan apa-apa di alam ini melainkan kepada-Mu Ya Allah (Yang Maha Pengasih), manusia terpilih Nabi Muhammad dan guru kami Syekh Ahmad Tijani

هَذِي هَدِيَّةٌ بِفَضْلِ اللهِ ï مِنَّا إِلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ

Dzikir ini merupakan hadiah untukmu Ya Rasulullah dari kami yang semata-mata merupakan pemberian Allah


هَدِيَّةً لِلْمُصْطَفَى الْعَدْنَانِي ï نِيَابَةً عَنْ شَيْخِنَا التِّجَانِي

Hadiah penghormatan buat manusia terpilih Nabi Muhammad keturunan Adnan juga sebagai mandate dari guru kami syekh Ahmad Tijani

آميْنَ آميْنَ اسْتَجِبْ دُعَانَا ï وَلاَ تُخَيِّبْ سَيِّدِي رَجَانَا

Terimalah, terimalah dan kabulkan Ya Allah, doa-doa kami. Jangan Kau kecewakan segala harapan kami

Doa ini merupakan Qashidah tawassul kepada Syekh Ahmad Tijani Radhiyallahu Anhu. qashidah ini biasanya dibaca setelah selesai membaca wirid lazimah dan wazhifah.

Dikutip dari kitab Ghayatul Muna Wal Murad Fima Littijaniy Minal Aurad halaman 27.

Senin, 20 Mei 2013

SAYYIDAH ZAHRO AL HABSYIAH istri SAYYID MUHAMMD AL HABIB BIN SYECH AHMAD RA

Sayyidah zahro Al habsyiah adalah istri Sayyid Muhammad Al habib bin Syech Ahmad At ti jany ra,beliau di karuniai seorg anak yg bernama Ahmad....... jauh sebelum kedua nya menikah,Sayyid Muhhammad Al habib ra suatu waktu mau bepergian kehijaz dg menaiki kapal laut.... di tempat pembelian tiket di pelabuhan tunis Sayyid Muahammad Al habib bertemu dg Sayyid yusuf bin Dzanun Al bajja,i at tunisi,beliau ini murid dr syech Ahmad at tijany yg sangat masyhur akan KASYAF dan FUTUH nya dan Sayiid muhammad Al habib memang sgt menghormati dan sgtperhatian pd Sayyid yusuf bin dzanun... Sayyid Yusuf ber kata kpd Sayyid muahammad Al habib.... Wahai Sayyid Muhammad Al habib...Kapal yg akan engkau naiki ini akan pecah nanti saat sampai disuatu tempat,oleh krn nya jangan lah engkau kaget,krn engkau akan slamat Insya Allah dan engkau akan menikah setelaah itu dengang Sayyidah dr kalangan Habsyiah dan engkau akan punya anak laki2 dr nya tolong beri nama sebagaimana nama Ayah mu ( Syech Ahmad ra )demikian pertemuan yg singkat itu dan ternyata apa yg di katakan oleh Sayyid Yusuf semua nya benar dan tak satupun yg meleset,kapal itu pecah dan Sayyid Muhammad Al habib selamat dg ijin Allah dan beliau setelah itu menikah dengan Sayyidah Zahro Al habsyiah serta di karunia se org anak yg di beri nama Ahmad sesuai wasiat Sayyid yusuf bin dzanunDemikaian lah hal ihwal dr pd kekasih2 Allah ﻭﺍﻟﻠﻪ ﺍﻋﻠﻢﻧﺴﺎﺀ ﺗﺠﺎﻧﻴﺎﺕ

Bingkisan Rindu 6

Yakin dengan Tarekat Tiajani Akan Sampai pada Tujuan Banyak ayat al Qur`an menyebutkan iman dan amal saleh secara beriringan. Ini menunjukkan kepercayaan atau keyakinan adalah pondasi dasar yang kita miliki. Percaya dan yakin dengan tarekat yang kita ambil dan percaya dengan apa-apa yang berhubungan dengan tarekat, baik syarat, keutamaan tarekat, kedudukan syekh Tijani sebagai Saidul Aulia, dan hal-hal lainnnya. Kepercayaan dan keyakinan itu merupakan pondasi untuk meraih keutamaan dan keberhasilan dalam bertarekat. Yang tak kalah pentingnya adalah kita harus percaya dan yakin bahwa kita akan sampai pada tujuan tarekat, yaitu wushul ilallah. Dalam kitab Ar Rimah jilid I hal 23 disebutkan bahwa: الشيخ الواصل حبل الله فى ارضه فمن تعلق به وصل واما غير الواصل فمن تعلق به انقطع “Syekh washil adalah ibarat tali Allah di bumi, barang siapa bergantung kepadanya, niscaya ia akan washil juga. Adapun syekh yang tidak washil, siapa yang bergantung kepadanya akan terputus (tidak akan wushul ilalla).” Sebaliknya orang yang tidak percaya dengan tarekat atau ragu-ragu dengan tarekat yang ia ambil tidak akan memperoleh keutamaan tarekat yang ia ambil, karena masih dalam keragu-raguan. Bahkan ada diantara ikhwan kita ( termasuk ulama) yang tadinya masuk Tarekat Tijani, karena ada ungkapan-ungkapan dalam Tarekat yang menurutnya tidak lazim, menurut pemahamannya, sehingga timbul keraguan dan akhirnya menyatakan secara tertulis keluar dari Tarekat Tijani, bahkan sampai menggelar Dialog untuk memojokkan Tarekat Tijani. Na`uzubillah min zalik. Menurut KH. Fauzhan: Haram bagi ikhwan Tijani mengikut imam kepada orang yang pernah masuk Tijani kemudian keluar dari Tijani bahkan memusuhi Tarekat Tijani. Ada juga saudara kita yang tidak percaya dengan tarekat, bahkan tarekat dikatakan sebagai bid`ah. Tidak percaya dengan karamatnya para wali. Menganggap tarekat menjerumuskan manusia kepada perbuatan syirik, karena katanya orang tarekat senang memuji-muji wali, meminta kepada wali. Tidak percaya dengan tawasul. Langsung saja katanya meminta kepada Allah. Orang-orang yang beranggapan seperti ini jangankan mengambil Tarekat, mendengar nama Tarekat saja mereka elergi, bahkan memusuhi orang-orang tareakat. Yakinlah dengan bergabung pada salah satu tarekat muktabarah, kita akan sukses meraih keselamatan, kebahagiaan dunia akhirat, dan mendapatkan keridhaan Allah.

Bingkisan Rindu 5

KUNCI SUKSES BERTAREKAT Sungguh berbeda orang yang tahu dengan orang yang tidak tahu. Banyak orang yang mengalami gagalan karena ketidaktahuannya. Orang yang tidak mengerti cara memasak ia akan gagal ketika memasak. Sebaliknya orang yang mengerti tentang memasak ia akan mampu memasak dengan baik. Namun, pengetahuan tentang memasak belum menjamin sukses dalam memasak, kalau tanpa latihan dan pengalaman yang berulang-ulang. Begitu pula orang yang ingin sukses bertarekat perlu mengetahui seluk-beluk ilmu tarekat yang ia pegang. Apa yang perlu dipersiapkan, apa yang harus dilakukan sehingga tidak mengalami kegagalan dalam bertarekat. Untuk memberikan motivasi agar kita sukses bertarekat dan tetap istiqamah dengan tarekat yang kita ambil, mari kita simak uraian berikut. Niat yang Benar Ada sebagian pengamat tarekat mempertanyakan tentang tingginya animo masyarakat memasuki tarekat. Sebagaimana kita baca dalam Tabloit Serambi Ummah no 165 halaman 7, yaitu : Apakah animo masyarkat itu terjadi karena mereka jenuh dengan kehidupan materialistis yang selama ini menggerogoti mereka? Apakah karena kegundahan jiwa akibat hiruk-pikuk kehidupan politik dan ekonomi yang membuat orang banyak stres? Apakah karena di dalam tarekat mereka menemukan sesuatu yang belum pernah mereka peroleh, berupa ketenangan, kedamaian, keceriaan dan keppuasan batin? Boleh jadi ada sebagian orang masuk tarekat karena stres menghadapi kehidupan dunia yang serba rusak dan mungkin juga karena keringnya dan gersangnya jiwa, lalu orang tersebut masuk tarekat untuk mengobati kegundahan dan kegersangan jiwanya. Keliru kalau mencari ketenangan jiwa dengan meminum obat-obat terlarang, keliru kalau mencari kedamaian di tempat maksiat, dan salah besar orang yang ingin jiwanya tenang jauh dari agama, dan lalai dari mengingat Allah. Bukankah agama mengajarkan, sebagaimana yang dinyatakan dalam Al Qur`an : الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (الرعد :٢٨( Artinya : “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram”. Kita dukung animo masyarakat masuk tarekat. Karena mereka menentukan pilihan yang tepat, semua tarekat mengajarkan zikir kepada Allah, dengan zikir kepada Allah jiwa kita akan tenang. Ketenangan adalah hasil dari perjalanan tarekat. Sebenarnya hasil ini adalah janji Allah. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana meluruskan niat dan tujuan orang yang masuk tarekat sehingga mencapai hasil yang dijanjikan Allah tersebut. Terlepas dari apa yang melatarbelakangi orang yang masuk tarekat, seperti yang dipertanyakan oleh sebagian pengamat tadi. Kita perlu menyamakan persepsi tentang tarekat itu sendiri. Kalau tarekat hanya dipandang sebagai pelegkap atau bahkan dianggap bid`ah, berarti kita tidak sejalur, tidak sama dalam memahami tarekat. Bagi yang menganggap tarekat bid`ah, tidak perlu melanjutkan membaca tulisan ini. Kalau kita sepakat, bahwa tarekat adalah bagian dari ajaran agama Islam dan merupakan Sunnah Rasul, sebagaimana dikemukakan pada pembahasan terdahulu tentang macam-macam tarekat, bahwa syariat Rasul datang dengan membawa 313 atau 360 tarekat. Kalau sepakat dengan hal ini, berarti tarekat bukan lagi dipahami sebagai pelengkap yang hanya dibutuhkan ketika ada kepentingan. Kalau sudah tercapai kepentingannya, ia tinggalkan tarekatnya. Bukan seperti itu yang kita kehendaki di sini. Tetapi tarekat adalah kebutuhan setiap orang Islam. Kalau persepsi kita sudah sama. Maka pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pengamat tadi dapat kita terima sebagai peringatan bagi orang yang masuk tarekat. Bukan dikarenakan stres, bukan karena urusan dunia semata, tetapi karena memang tarekat adalah merupakan perintah agama, demi kemaslahatan dunia akhirat. Kita bersangka baik saja dengan tingginya animo masyarakat masuk tarekat. Berarti kesadaran masyarakat terhadap agama memang tinggi dan sudah mengerti betapa pentingnya ilmu tarekat. Orang masuk tarekat tidak mesti stres dulu, baru masuk tarekat, tetapi masuk tarekat adalah kebutuhan orang yang menginginkan keselamatan dunia dan akhirat, sebagai upaya menyempurnakan ikhtiar dalam mengarungi lautan hakikat dan makrifat untuk mendapatkan pengenalan yang hakiki dan meraih keridhaan Allah sebagai wujud dari ketaatan kepada Allah dan Rasul Nya. Kalau tarekat dikatakan sebagai sarana pembersihan batin, kearah itu niat dan tujuan kita dalam masuk tarekat agar sifat-sifat tercela keluar dari diri kita dan menghiasinya dengan sifat-sifat mahmudah. Kalau tarekat bertujuan untuk mencapai kemakrifatan yang hakiki, kearah itulah tujuan kita dalam memasuki tarekat. Kerangka dasar tujuan tersebut di atas adalah tujuan yang mengandung keridhaan Allah. Ini yang kita sebut dengan niat yang benar, yaitu niat karena Allah dengan pertolongan Allah dan untuk mencapai keridhaan Allah. Kalau orang yang masuk tarekat hanya ikut-ikutan teman, tidak tahu tujuan yang sebenarnya. Mungkin juga mendengar bahwa orang yang masuk tarekat akan diberikan kemudahan-kemudahan dan kelapangan penghidupan dunianya, lalu ia masuk tarekat tanpa dilandasi atas dasar perintah Allah dan tidak mengerti untuk apa bertarekat itu, maka akan lahir suasana hati dan tindakan yang mengandung kebencian Allah. Kalau ternyata penghidupan dunianya tidak berubah juga, buru-buru ia menyalahkan tarekat tersebut dan meninggalkan tarekatnya. Padahal bukan tarekatnya yang salah tetapi niat dan tujuannya yang belum benar. Tujuan dari tarekat bukan untuk mengejar dunia, tetapi tarekat bertujuan menuju Allah. Kalau ternyata orang yang bertarekat diberikan Allah penghidupan dunia yang sejahtera, itu tidak memalingkan dirinya dari Allah. Bahkan, dijadikannya sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Rasulullah mengingatkan kita dengan sabda beliau: « إنَّما الأَعمالُ بالنِّيَّات ، وإِنَّمَا لِكُلِّ امرئٍ مَا نَوَى ، فمنْ كانَتْ هجْرَتُهُ إِلَى الله ورَسُولِهِ فهجرتُه إلى الله ورسُولِهِ ، ومنْ كاَنْت هجْرَتُه لدُنْيَا يُصيبُها ، أَو امرَأَةٍ يَنْكحُها فهْجْرَتُهُ إلى ما هَاجَر إليْهِ » متَّفَقٌ على صحَّتِه (رياض الصالحين) Artinya : Setiap amal tergantung dengan niat, dan setiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan. Barang siapa hijrah karena Allah dan RasulNya, maka hijrahnya mendapati Allah dan Rasul Nya, dan barang siapa hijrah karena dunia yang diinginkannya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya pun mendapati apa yang diinginkannya. Jadi dalam segala amal, termasuk dalam mengambil dan mengamalkan tarekat, harus dilandasi niat karena Allah. Allah dan Rasulnya yang dikedepankan, bukan tujuan-tujuan yang lain. Dalam tarekat Tijani kita diajarkan, baik amaliah wajib maupun ikhtiariyahnya selalu disertakan niat-niatan yang harus dicamkan sebelum memulai beramal. Ketika kita beramal dengan niat karena Allah, merasakan sepenuhnya amal yang kita kerjakan adalah karunia Allah, kita pun melengkapi niatan itu dengan pengharapan kepada Allah untuk diberikan karunia penghidupan dunia yang sejahtera sampai kesejahteraan akhirat. Hal ini yang disebut dengan doa, dan doa ini pun dilandasi karena Allah, untuk kemudahan dan sarana mendekatkan diri kepada Allah, dan meraih ridha Allah. Misalnya minta dipanjangkan umur, untuk taat ibdah kepada Allah, minta diberikan rezeki yang halal luas lagi berkah itupun untuk digunakan ibadah kepada Allah, jadi lillah (karena Allah) billah (dengan Allah) kita bisa beramal dan berdoa, untuk meraih keridhaan Allah. Kalau kita cermati lebih lanjut hadits di atas, bahwa setiap orang mendapat apa yang ia niatkan. Dapat dipahami ketika seseorang berniat karena Allah dan Rasulnya, mendahulukan Allah dan Rasulnya dan ia pun berniat hijrah untuk mendapatkan dunia dan perempuan yang ia nikahi, Allah pun memberikan dunia dan wanita yang ia inginkan, dan iapun mendapatkan keridhaan Allah dan RasulNya. Lain halnya kalau ia hijrah semata ingin dunia dan wanita yang ingin dinikahinya, iapun lupa dengan Allah dan Rasul, maka ia hanya mendapat apa yang diniatkan (dunia dan wanita) namun tidak mendapatkan Ridha Allah dan Rasul, karena memang hijrahnya bukan karena Allah dan Rasulnya. Kekuatan Niat Setiap pekerjaan/amal tergantung dengan niatnya. Apabila pekerjaan atau amaliyah yang kita kerjakan didasarkan untuk ibadah kepada Allah, menjunjung perintah Allah, artinya mengedepankan, mengutamakan Allah, ini yang akan bernilai di sisi Allah. Ada beberapa kategori orang dalam bekerja atau beramal. Ada orang yang bekerja hanya untuk mencari sesuap nasi untuk mempertahankan hidupnya. Ia tidak tahu mana yang halal dan yang haram, yang penting ia bisa bertahan hidup. Ini tidak ubahnya seperti burung, dia mencari rezeki untuk menyambung hidup dan keturunannya. Cukup untuk dirinya dan keturunannya. Ada lagi tipe orang yang bekerja hanya untuk mengumpulkan dan menumpuk harta dan berbangga-bangga dan menyombongkan harta yang ia miliki. Menyombongkan diri dengan jabatan yang ia miliki. Ini tipe Firaun dan Qarun yang dengan harta dan kedudukannya itu menyebabkan keduanya binasa. Ada juga tipe orang yang bekerja mendapatkan harta, demi kebutuhan hidup diri dan keluarganya, dan ia tahu betul bahwa itu meruapkan kewajiban dirinya dalam memberikan nafkah bagi anak isterinya. Agar ia tidak jatuh menjadi orang yang meminta-minta (pengemis), dan menghindarkan diri dari mencuri. Untuk itulah dia bekerja. Kerangka dasarnya adalah ia memandang bahwa inilah kewajiban yang diberikan Allah kepadanya. Ada juga orang bekerja mengumpulkan harta tidak hanya sebagai kewajiban, tetapi ia juga berniat untuk menikmati nikmat yang diberikan Allah, sebagai tahadduts binni`mah, menikmati rezki yang halal, dan ia tahu betul bahwa yang memberikan nikmat adalah Allah. Selanjutnya ada juga orang yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarganya dengan pekerjaan yang halal dan ia tahu nikmat itu datang dari Allah, dan ia menyadari bahwa harta yang ia miliki adalah titipan semata, dan dengan hartanya itu ia gunakan untuk berbagi dengan orang yang membutuhkannya. Ia napkahkan harta itu di jalan Allah. Dari tipe – tipe orang yang bekerja tadi, bisa kita kelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang bekerja bukan atas dasar ibadah, dan kelompok yang bekerja atas dasar ibadah kepada Allah. Ketika kita berpakaian pun harus dilandasi niat ibadah kepada Allah. Apabila tidak kita niatkan atas dasar niat menutup aurat dan memenuhi perintah Allah, maka apa yang kita lakukan tidak bernilai ibadah, Karena yang di nilai bukan pakaiannya tetapi niatnya. Begitu pula ketika kita melakukan hubungan suami isteri, apa yang kita lakukan adalah hal yang halal, walau halal kalau tidak niat untuk ibadah karena Allah kita hanya mendapatkan nikmatnya saja tetapi tidak mendapatkan nilai di sisi Allah. Coba kalau kita niat menunaikan kewajiban dan memberikan hak kepada isteri, dan apa yang kita lakukan itu atas dasar lillah. Maka kita pun akan mendapat nilai dan dapat pula kenikmatannya. Coba kita perhatikan hadits Nabi yang menggambarkan bagaimana kehebatan dan kekuatan niat. - وَعَنْ أبي يَزِيدَ مَعْنِ بْن يَزِيدَ بْنِ الأَخْنسِ رضي الله عَنْهمْ، وَهُوَ وَأَبُوهُ وَجَدّهُ صَحَابِيُّونَ، قَال: كَانَ أبي يَزِيدُ أَخْرَجَ دَنَانِيرَ يَتصَدَّقُ بِهَا فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَجُلٍ في الْمَسْجِدِ فَجِئْتُ فَأَخَذْتُهَا فَأَتيْتُهُ بِهَا . فَقَالَ : وَاللَّهِ مَا إِيَّاكَ أَرَدْتُ ، فَخَاصمْتُهُ إِلَى رسول اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فَقَالَ: «لَكَ مَا نويْتَ يَا يَزِيدُ ، وَلَكَ مَا أَخذْتَ يَا مَعْنُ » رواه البخاريُّ . Artinya : Dari Abu Yazid Ma`ni bin Yazid bin Al Akhnas radiallahu anhum, Dia, ayahnya dan kakeknya adalah sahabat Nabi Saw.Abu Yazid berkata: Ketika itu ayahku Yazid mengeluarkan beberapa uang emas untuk disedekahkan, lalu dipercayakan kepada seorang laki-laki yang berdada di dalam mesjid (untuk dibagi-bagikan) maka aku hampiri orang itu dan aku ambil uang itu dan kuperlihatkan kepada ayahku. Ayahku berkata : Demi Allah yang kuharapkan bukan untukmu. Maka aku adukan kejadian ini kepada Rasulullah SAW. Maka beliau bersabda : Engkau mendapatkan apa yang kamu niatkan hai Yazid. Dan kamu berhak memiliki apa yang kamu ambil, hai Ma`nu” Dari hadits tersebut dapat dipahami, karena dengan niat bersedekah, walaupun ternyata yang menerima adalah anak sendiri, karena dititip dengan orang lain, walaupun sebelumnya ayahnya bukan bermaksud bersedekah pada anaknya, tetapi bersedekah untuk orang lain. Orang tersebut (ayah) tetap mendapatkan ganjaran kebaikan. Dan anaknya tadi berhak memiliki apa yang sudah ia ambil. Ada hikayat, pada suatu masa terjadi kemarau panjang, dan terjadilah gagal panen, kelaparan terjadi di mana-mana. Disaat semua orang tidak memiliki apa-apa, ada salah seorang yang memiliki rasa kasih sayang terhadap sesama berjalan-jalan di kampung itu. Ia menemukan setumpuk pasir, dan ia berkata dalam hati “ Ya Allah, seandainya pasir ini beras, niscaya aku sendiri yang akan mengangkut dan membagikannya kepada mereka yang membutuhkan”. Ketika orang ini meninggal dunia, ia pun bingung menerima ganjaran pahala yang begitu besar, padahal menurutnya, ia tidak pernah merasa berbuat kebaikan sebanyak itu. Lalu ia diingatkan ketika ia hidup di dunia pernah berandai-andai tentang tumpukan pasir menjadi beras dan akan dibagikannya untuk orang lain. Sungguh besar karunia dan anugerah Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya. Setiap kebaikan yang dikerjakan dengan penuh keimanan akan diberikan balasan yang berlipat ganda mulai dari berbalas sepuluh, tujuh ratus, bahkan sampai tidak terhitung banyaknya, sesuai dengan kadar keimanan dan keikhlasan mereka yang beramal. Hal ini menunjukkan Maha Pengasih, Maha Pemurah dan Penyayangnya Allah kepada hambanya yang beriman. Sebaliknya orang yang berbuat kejahatan akan dibalas juga oleh Allah dengan keadilanNya. Mari kita simak hadits qudsi berikut: - وَعَنْ أبي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَِّلب رَضِي الله عنهما، عَنْ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فِيما يَرْوى عَنْ ربِّهِ ، تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَالَ : «إِنَّ الله كتَبَ الْحسناتِ والسَّيِّئاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذلك : فمَنْ همَّ بِحَسَنةٍ فَلمْ يعْمَلْهَا كتبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عِنْدَهُ حسنةً كامِلةً وَإِنْ همَّ بهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عَشْر حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمَائِةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كثيرةٍ ، وَإِنْ هَمَّ بِسيِّئَةِ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كامِلَةً ، وَإِنْ هَمَّ بِها فعَمِلهَا كَتَبَهَا اللَّهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً» متفقٌ عليه . Artinya : Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthallib radianllahu `anhuma, dari Rasulullah menjelaskan keterangan dari Tuhannya (hadits qudsi) : “ Sesungguhnya Allah mencatat kebaikan dan kejelekan. Dijelaskan: Barangsiapa mencita-citakan berbuat kebaikan dan ia tidak mengerjakan kebaikan tersebut, Allah akan membalasnya untuk orang tersebut satu kebaikan yang sempurna. Dan jika ia berniat (mencita-citakan) berbuat kebaikan, lalu dia kerjakan kebaikan itu, Allah akan berikan ganjaran sepuluh kebaikan sampai tujuh ratus kali lipat bahkan sampai tidak terhitung banyaknya. Dan jika dia bercita-cita, berkeinginan berbuat kejahatan dan dia urungkan niatnya itu (tidak jadi berbuat kejahatan) Allah berikan satu kebaikan yang sempurna. Dan jika dikerjakannya kejahatan itu, Allah hitung baginya satu kejahatan. Ada banyak niat yang bisa kita pasang ketika kita beramal atau mengerjakan kebaikan sosial. Karena setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.( وإِنَّمَا لِكُلِّ امرئٍ مَا نَوَى) Misalnya, Ketika kita mendapat undangan hajatan tetangga. Saat kita akan berangkat, kita bisa memasang niat untuk mengabulkan hajat orang lain karena Allah, kita tambahkan lagi niatan silaturrahim dengan para tetangga, ditambah lagi niat menyenangkan hati orang lain, ditambah lagi niat berbagi ilmu atau pengalaman dengan orang lain, niat dakwah bilhal, niat saling berkasih sayang, karena pandangan orang yang berkasih sayang lillah wafillah, sangat luar biasa. Demikian besar keistemewaan dan keagungan dan kekuatan niat. Niat adalah amalan hati dan yang menilai adalah Allah SWT. Semoga kita semua diberikan keikhlasan oleh Allah SWT. Mengapa kita berdoa dan meminta diberikan keikhlasan, karena keikhlasan atau niat yang benar merupakan karunia atau anugerah Allah yang diberikan kepada orang-orang yang dipilih oleh Allah. Oleh karena itu hendaknya kita selalu berusaha, terus menerus beramal dan beramal kebaikan, sambil mengaharap diberikan keikhlasan yang sempurna. Janganlah kita meninggalkan amal karena merasa belum Ikhlas, atau karena takut dikatakan orang begini-begitu, karena menurut Imam Syafi`i untuk mencapai keikhlasan yang sempurna 100 persen itu sulit, karena syaitan selalu datang mengganggu. Karena tujuan dari Iblis adalah agar manusia menganggur alias tidak beramal kebaikan. Dalam kitab Al Azkar, Imam Nawawi ada disebutkan, meninggalkan amal karena manusia termasuk riya, dan beramal karena manusia syirik. Para ikhwan dan muhibin Tijaniyah, coba kita renungkan ajaran dan materi Tarekat yang kita terima, di sana kita dapati tarbiyah dan bimbingan Syekh, bahwa setiap amaliah yang kita kerjakan senantiasa dimulai dengan niat. Perhatikanlah...Niat wirid lazim pagi dan sore serta wazhifah. “Sangaja aku beribadah kepada Allah dengan membaca wirid pagi (sore) dalam tarekat Tijaniyah, tarekat puji syukur, karena Allah ta`ala”. Dari sini kita bisa memahami kandungan ajaran untuk senantiasa menilik hati kita dalam berbuat sesuatu baik amaliah agama, maupun amaliyah sosial. Agar kita semua mendapat keberuntungan fiddunya wal akhirah. Beramal sebagai realisasi dari rasa syukur kepada Allah, makanya Tarekat Tijaniyah disebut juga Tarekat Puji Sykur, sebagai mana Rasulullah senantiasa beristighfar, padahal Rasulullah sudah dijamin tidak berdosa. Saat beliau melaksanakan shalat malam sampai menjelang waktu shubuh, beliau berdiri, dalam keadaan menangis, ruku beliau menangis, sujud beliaupun menangis. Ketika ditanya oleh isteri beliau Saidatina Aisyah, mengapa Rasulullah sampai berbuat hal yang demiakian, padahal dosa yang lalu dan yang akan datang sudah diampuni. Beliau pun menjawab: Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur. Dan mengapa aku tidak berbuat hal demikian itu padahal sudah diturunkan kepadaku ayat : إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ -١٩٠- الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَىَ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ -١٩١- Artinya :Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau Menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (Q.S. Ali Imran : 190 -191) Jaga Syarat, Perhatikan Anjuran dan Pantangan dalam Tarekat Dalam dunia kesehatan, setiap pasien yang menginginkan kesembuhan, ia harus benar-benar memperhatikan pantangan-pantangan yang harus ia hindari selama menjalani pemngobatan. Disamping itu, ia juga harus mematuhi anjuran-anjuran dokter. Apabila anjuran dan pantangan dokter ia abaikan, pengobatan yang ia lakukan akan sia-sia. Dalam tarekat, kita diberikan resep atau amaliah tarekat dengan jumlah hitungan tertentu dan waktu yang ditentukan. Oleh karena itu kita sebagai pasien atau murid tidak dibenarkan menambah atau mengurangi jumlah yang sudah ditentukan. Kita tidak perlu menanyakan mengapa harus 100 kali mengapa harus 30 atau mengapa tidak ditambah saja? Karena itulah resep atau formula yang tepat yang harus dikonsomsi, sesuai anjuran dokter (Syekh). Kita harus mematuhinya. Yang tidak kalah pentingnya adalah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dan menjaga agar jangan sampai melanggar larangan atau pantangan dalam tarekat. Karena dibalik larangan atau pantangan pasti mengandung hikmah yang akan terpulang bagi pengamal tarekat itu sendiri. Dalam tarekat Tijaniyah ada beberapa pantangan yang harus diperhatikan, yaitu : Pertama :Tarekat Tijani tidak boleh digabung dengan tarekat yang lain Apabila sudah mengambil dan mengamalkan terekat Tijaniyah, kita dilarang mengambil atau mengamalkan tarekat yang lain. Pantangan ini tidak main-main. Berapa banyak orang yang tidak mengindahkan pantangan ini mengalami kehancuran kecuali ia kembali dan menetapi Tarekat Tijani. Begitu pula orang yang ingin mengambil tarekat Tijani, harus kosong dari tarekat yang lain. Artinya apabila sebelumnya memegang tarekat yang lain seperti Naqsyabandi maka tarekat itu harus dilepas, untuk selanjutnya menunggal mengamalkan satu tarekat saja. Misalnya, ababila kita tetap menggabung Tarekat Tijani dan Tarekat Naqsyabandi, maka kita tidak akan diakui sebagai orang Tarekat Tijani, dan tidak pula Tarekat Taqsyabandi. yang lain. Dan lepaslah kita dari tanggung jawab Syekh. Dan bersiaplah menerima bala dari Allah. Mengapa bisa demikian? Karena sebelum kita mengambil, Tarekat Tijani, para muqaddam mengajukan persyaratan dan pantangan yang harus kita penuhi, apabila kita bersedia, para muqaddam baru bisa mentalqinkan Tarekat Tijani. Jika kita masih menggabung berarti kita sudah khianat dengan janji yang kita ucapkan. Perlu dijelaskan di sini bahwa tidak boleh menggabung tarekat bukan berarti tidak boleh bergaul dengan pengikut yang lain. Yang tidak boleh digabung adalah tarekatnya bukan orangnya. Hal ini kita jelaskan karena ada tuduhan yang tidak pas tentang tarekat Tijani, seperti tuduhan Tarekat Tijani memcah belah umat, karena katanya Tijani tidak mau bergaul dengan orang yang bukan Tijani (memutus silaturrahim). Orang Tijani bikin Mesjid sendiri yang tidak terlalu jauh dengan mesjid yang lain, bahkan ada tuduhan setengah PKI. Masya Allah...! Begitu mudahnya memberikan tuduhan seperti itu, padahal belum tabayyun. Ternyata yang dimaksudkan mesjid itu adalah zawiyah sebagai majelis zikir dan ilmu yang dibangun tidak berjauhan dengan Mesjid. Benarkah ikhwan Tijani dilarang bergaul dengan orang yang bukan pengamal tarekat Tijani? Orang Tijani tidak dilarang dan tidak memutus silaturrahim dengan orang lain. Bahkan ikhwan Tijani disuruh menghubungkan tal silaturrahim dengan siapapun. Yang ada dalam Tijani adalah melarang ikhwannya bergaul dengan orang yang memusuhi atau i`tiradh dengan tarekat Tijani, karena bergaul dengan mereka justeru mengakibatkan lemahnya himmah kita dalam mengamalkan tarekat, yang pada akhirnya kita pun melepas tarekat Tijani, karena terpengaruh dengan kata-kata orang tersebut. Ini pun diperuntukkan bagi ikhwan yang hatinya belum terlalu mantap dengan Tarekat Tijani (ikhwan yang baru masuk tarekat). Kalau mampu memberikan pengaruh pada mereka yang memusuhi Tarekat Tijani, bahkan mampu mengajak mereka yang `itiradh itu tobat dan mau kembali kepada Allah dan Rasul, dan bergabung dengan tarekat Tijani, silahkan kita pergauli mereka. Kalau dirasa tidak mampu, lebih baik kita tingalkan orang yang sudah berani menjadi musuh Allah dan Rusul. Berteman dengan orang yang menjadi musuh Allah dan Rasul justeru mendatangkan bahaya buat diri kita sendiri. Hikmah tidak Menggabung Tarekat Ikhwan Tijani tidak menggabung tarekat, dalam arti ikhwan Tijani istiqamah dengan satu tarekat, sebagaimana kita umat Islam tidak dilarang bermuamalah dan bergaul dengan umat lain dan dengan siapapun, selama tidak berhubungan dengan akidah. Kalau tarekat kita ibaratkan sebagai sarana penyembuhan penyakit. Maka apa jadinya kalau pasien mendapatkan pengobatan dan resep dari dua orang dokter. Dokter yang satu memberi resep ini dan dokter yang lain memberi resep yang lain lagi. Kalau kita ambil dan kita minum semua obat tersebut, apa yang terjadi, bukan kesembuhan yang akan kita dapat, justeru memperparah penyakit yang ada, karena kita sudah keracunan obat. Inilah persolan yang banyak dilupakan, dikira dengan banyak mengambil tarekat akan memperbaiki keadaan, bahkan malah sebaliknya. Untuk itulah disini perlu kita pertegas dengan mengemukakan pendapat para ahli agar kita sukses dalam menempun tarekat. Imam As Sya`rani dalam kitab beliau Anwar Al Qudsiyah halaman 43 menyatakan : ومن شأ نه ألا يكون له الا شيخ واحد فلا يجعل له قط شيخين لأن مبنى طريق القيم على التوحيد الخالص “ Diantara persoalan seorang murid (adab murid), bahwa ia hanya boleh memiliki satu guru (syekh), tidak dibolehkan mengambil dua orang syekh (tarekat) karena tarekat itu dibangun atas dasar tauhid yang suci/murni”. Pernyataan di atas menegaskan bahwa pondasi dasar tarekat adalah tauhid murni, tidak bercampur, artinya memiliki Tuhan hanya satu, mempunyai Nabi hanya satu dan syekh murabbi juga satu (satu tarekat). Oleh karena itu apabila menggabung dua tarekat atau dua murabbi berarti tidak tauhid lagi (bersyarikat). Hal ini disenyalir oleh Syekh Abu Yazid dengan istilah musyrik dalam tarekat, sebagaimana pernyataan beliau yang tercantum dalam kitab Anwar Al qudsiyah halaman 43 baris ketujuh dari awah, yaitu : من لم يكن له استاذ واحد فهو مشرك فى الطريقة والمشرك شيخه الشيطان “Barangsiapa yang tidak menetapi satu syekh, maka ia musyrik dalam tarekat, dan orang yang musyrik syekhnya adalah syaitan”. Masih di halaman yang sama Syekh As Sya`rani mengutip pendapat Syekh Muhyiddin Ibn Arabi sebagai berikut : اعلم انه لا يجوز ان يتخذ له إلا شيخا واحدا لأن ذالك اعون له فى الطريق وما راين قط افلح على يد شيخين, فكما انه لم يكن وجود العالم بين إلهين ولا المكلف بين رسولين ولا امرأة بين زوجين فكذالك المريد لا يكون بين شيخين هذا كله فى مريد تقيد بشيخ بقصد سلوكه الطريق واما من لم يتقيد فهو متبرك بالشيخ فقط فمثل ذالك لا يمنع من الإجتماع بأحد Ketahuilah, tidak dibenarkan seorang murid mengambil guru, kecuali satu syekh. Karena yang demikian sudah ketentuandalam tarekat. Karena tidak pernah aku melihat seorang murid yang dapat keberuntungan di tangan dua orang guru, sebagaimana tidak mungkin ada alam dengan du Tuhan, dan tidak ada mukallaf dengan dua orang rasul, begitu pula dengan seorang perempuan dengan dua orang suami. Begitu pula seorang murid tidak mungin berada diantara dua orang syekh. Ini semua untuk murid yang bermaksud menggantungkan dirinya menempuh tarekat (sebagai murid tahkim/taqyid). Dan bagi murid yang tidak bermaksud menempuh tarekat disebut dengan murid Tabarruk kepada syekh saja. Murid seperti ini tidak dilarang bergabung dengan yang lain”. Dari ungkapan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa larangan menggabung dua tarekat atau memiliki syekh lebih dari satu dikhusukan bagi murid taqyid atau murid tahkim (murid yang benar-benar menginginkan masuk dalam ranhkuman / ikatan tarekat untuk mendapatkan bimbingan secara khusus dalam tarekat). Perlu diketahui bahwa murid taqyid dan murid tahkim ini ia tidak dilarang menuntut ilmu atau berguru kepada guru yang lain, mendengar nasehat guru yang lain, selama murid itu mantap hatinya pada syekh tarekatnya. Dan ia juga diperkenankan mengamalkan amaliah lain yang bukan rangkaian amaliah tarekat. Namun, perlu kita ketahui amaliah ikhtiariah yang ditawarkan dalam tarekat Tijani juga sudah banyak, seandainya mau mengamalakan keseluruhan, sungguh tidak cukup waktu 24 jam. Jadi sebagai murid tarekat (murid tahkim) ia harus mantap pada satu syekh (tarekat), sebagaimana ungkapan Syekh Muhyiddin dengan perumpamaan yang logis. Dapat pula kita analogikan seorang murid itu dengan seorang anak yang tidak mungkin memiliki dua orang ayah. Ibnu Hajar juga pernah mengemukaan persoalan ini seperti ungkapan beliau : من يريد التبرك يجوز له الأخذ عن مشايخ متعد دة ومن يرد السلوك والتربية يحرم له عليه الخروج عن شيخه “ Barang siapa ingin mencari berkah, dibolehkan ia mengambil dari beberapa guru. Dan barang siapa yang ingin Suluk /menempuh jalan menuju Allah dan menginginkan bimbingan, maka ia dilarang meninggalkan gurunya dengan maksud mengambil beberapa guru yang lain”. Selanjutnya Imam Asy Sya`rani menjelaskan kedudukan Salafus Saleh dari golongan shahabat, tabi`in, dan tabi`it tabi`in, menurut beliau bahwa mereka tidak tergantung dengan satu syekh saja, bahkan sampai seratus syekh. Alasannya karena mereka termasuk orang yang suci lagi sempurna hal ihwalnya hingga mereka tidak membutuhkan bimbingan tarekat. Manakala mereka ditimpa satu penyakit (batin) yang mengahjatkan pengobatan, para masyaekh tadi memerintahkan untuk menggantungkan atau mengikatkan dirinya pada satu syekh saja agar tidak terlepas dan tercerai serta jauh perjalannya. (Anwar Alqudsiah : 44). Dari keterangan di atas, logis kalau tarekat Tijani menjadikan larangan menggabung dua tarekat sebagai syarat bagi yang ingin mengambil tarekat Tijani. Hal ini dimaksudkan tidak lain untuk kesuksesan murid itu sendiri. Secara mendasar ada alasan mengapa tarekat Tijani tidak boleh digabung dengan tarekat yang lain, yaitu : Pertama, karena mematuhi anjuran Rasulullah, sebagaimana anjuran beliau kepada Syekh Tijani untuk melepas semua tarekat yang pernah diambil dari para Syekh untuk menetapi satu tarekat yang ditalqin oleh Rasulullah kepada beliau. Dan beliau menerima Tarekat dan anjuran Rasulullah untuk melepas semua tarekat yang pernah diambil sebelumnya itu, ketika beliau bertemu dengan Rasulullah secara jaga, bukan dalam mimpi. Ini yang disebut oleh ulama tarekat sebagai talqin Barzakhi, yang disepakati kebenaran atau keshahihannya. (lihat Faidhurrabbani halaman 14). Jadi larangan menggabung tarekat Tijani adalah syarat yang dikemukakan oleh Rasulullah sendiri. Kedua, Murid Tijani diakui oleh Rasulullah sebagai murid beliau, ini berarti ikhwan Tijani yang membimbing secara rohani adalah Rasulullah sendiri. sebagaimana dikemukakan Rasul kepada Syekh bahwa Murid-muridmu adalah muridku” (Faidhurrabbani : 28) Sebagai kesyukuran, adakah guru pembimbing yang melebihi Rasulullah, oleh karena itu Rasul sangat cemburu kalau kita lebih mencintai yang lain ketimbang beliau. Hal ini bukan berarti kita menghinakan Syekh yang lain. Artinya dengan kecintaan kita kepada Syekh Tijani dan Rasul melebihi yang lain akan melahirkan kecintaan dan memuliakan syekh yang lain atas dasar kecintaan dan memuliakan Rasul dan Syekh Tijani. Dari uraian di atas dapat dimaklumi bahwa persoalan menetapi satu tarekat atau pun menggabung beberapa guru tergantung dengan kedudukan kita berada pada posisi mana. Apakah kita sebagai murid tabarruk saja ataukah kita ingin menjadi murid taqyid, murid tahkim? Ataukah kita sudah mencapai tingkatan maqam seorang Syekh yang bersih hati dari cacat cela sebagaimana para shahabat Rasul, Tabi`in, dan tabi`ittabi`in. Ini bisa kita jawab masing-masing. Tarekat Tijani adalah tarekat yang menghendaki muridnya sebagai murid tahkim, murid taqyid atau murid shadiq, murid yang benar-benar bersedia memenuhi semua ketentuan tarekat. Konsekuensinya bila tidak bersedia memenuhi ketentuan berarti bukan pengikut tarekat Tijani. Tidak Ziarah untuk Meminta Madad Rohani kepada Wali Lain (diluar Tijani), Baik yang Hidup atau yang Sudah Wafat Syarat atau pantangan melakukan ziarah kepada para wali di luar Tijani merupakan syarat atau pantangan yang cukup berat bagi mereka yang biasa dan sering ziarah ke kubur para wali. Hal tersebut banyak dipersoalkan oleh mereka yang memang terbiasa melakukan ziarah. Namun, disini perlu kita pahami lebih dahulu, ziarah yang bagaimana yang dilarang dalam Tijani, adakah ziarah yang dibolehkan, kalau tidak ziarah apakah termasuk meremehkan atau bagaimana? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu kita ketahui pengertian ziarah. Kata ziarah berasal dari Bahasa Arab, isim mashdar dari kata Zaara – yazuru yang berarti mengunjungi, kunjungan. Jadi ziarah bisa kita artikan aktivitas seseorang mengunjungi tempat-tempat wisata (rekreasi), bisa pula diartikan mengunjungi orang lain, baik teman, orang tua, guru atau saudara kandung, dan masyarakat umum lainnya dengan tujuan tertentu. Apabila mengunjungi orang yang baru meninggal dunia disebut dengan takziah dengan tujuan menghibur keluarga yang ditinggal mati, saling mengingatkan untuk menetapi kesabaran. Mengunjungi orang sakit disebut juga menjenguk orang sakit (`adalmaridh), Ziarah atau mengunjungi orang lain dengan maksud silaturrahim dan ta`aun (saling tolong). Ada juga ziarah untuk mengingat akhirat atau kematian ketika ziarah kubur. Mendatangi atau mengabulkan hajat (undangan) orang lain. Atau dengan tujuan menuntut ilmu pengetahuan. Mengunjungi orang tua dalam rangka berbakti kepada keduanya. Semua ziarah yang dikemukakan ini merupakan anjuran syariat agama yang suci. Hal ini tidak termasuk larangan dalam tarekat Tijaniyah. Bahkan sangat dianjurkan. Ziarah yang dilarang dalam Tarekat Tijaniyah adalah ziarah khusus. Ziarah yang dilakukan oleh seorang murid tarekat baik secara zahir atau batin kepada syekh atau wali ( selain dari golongan Tijani) dengan tujuan untuk mendapatkan limpahan madad dan ta`alluqat batin (ketergantungan hati / mahabbah), baik yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal dunia. Bisa diambil analogi terbalik, apabila kita dilarang menziarahi Syekh atau wali selain Tijani, berarti kita sebagai ikhwan Tijani sangat dan sangat dianjurkan menziarahi Syekh Tijani, lebih-lebih ziarah kepada Rasulullah, baik secara zahir maupun secara batin, untuk mendapatkan limpahan madad rohaniah. Sehingga kecintaan kepada Rasulullah dan Syekh melebihi dari yang lainnya. Limpahan Madad Rohaniah ini kalau kita analogikan dengan sebuah HP, ziarah adalah sarana untuk mengeces baterai HP yang kita pakai, sehingga bisa menyala dan bisa kita gunakan. Coba kita renungkan hal di atas, dan coba kita rasakan, semakin sering kita berkumpul dengan para ikhwan yang lain hati kita akan semakin cemerlang, karena kita saling nyetrum, saling ngeces hati kita, sehingga timbul kecintaan diantara kita, begitu pula apabila kita sering ziarah kepada muqaddam atau berkumpul dengan beliau minimal waktu hailalah Jum`at, tentu rohaniah kita akan berbeda dengan kita yang jarang berkumpul dengan beliau. Jadi, larangan ziarah kepada syekh yang lain dimaksudkan tidak lain untuk memberikan kemantapan kepada murid agar konsisten dalam menjalankan atau mengamalkan tarekatnya dan untuk penanaman rasa mahabbah terhadap syekh kita sendiri. (Dalam Bahada Banjar : Agar murid kada rambang mataan). Artinya agar murid tidak melirik kekasih yang lain. Kemantapan mahabbah inilah salah satu cara untuk mendapatkan kesuksesan dalam menempuh tarekat. Sebenarnya larangan ziarah seperti ini tidak hanya ada dalam tarekat Tijani. Seperti Tarekat Naqsyabandi juga melarang muridnya bergaul dengan murid yang lain, dan melarang ziarah kepada guru yang lain. Sebagai contoh, Ada seorang murid yang baru masuk tarekat, misalnya Tarekat Naqsyabandi, namun, murid itu belum mengenal betul seluk – beluk tarekat yang ia ambil. sementara kemantapan mahabbahnya kepada syekhnya juga masih diragukan. Kemudian si murid ini ziarah kepada murid tarekat yang lain, lalu terjadi mpembicaraan antara dua orang murid ini tentang tarekat masing-masing. Atau membicarakan keistemewaan Syekh masing-masing. Si murid itu pun membanding- bandingkan Syekh atau tarekatnya dengan syekh atau tarekat temannya itu. Akhirnya, karena si murid itu belum mantap dengan syekh atau tarekat yang pertama, dan belum sempurna perjalanan tarekatnya, ia pun tergoda ingin pindah pada tarekat yang dipegang temannya itu, karena melihat kemudahan-kemudahan atau keistemewaan syekh atau tarekat orang lain. Timbul keraguan terhadap syekh dan tarekat yang ia amalkan. Keraguan terhadap tarekat dan syekh inilah yang menyebabkan putusnya hubungan madadiah rohaniah dengan syekhnya. Atau bisa pula terjadi saling membanggakan tarekat masing-masing tanpa diiringi niat Tahaddus binni`mah hingga timbul kecenderungan meremahkan dan menghina tarekat orang lain, padahal semua tarekat bersumber dari Rasulullah. di sinilah terjadi kehancuran dan kegagalan murid tarekat. Karena meremehkan atau menghina tarekat yang lain sama halnya menghina Rasulullah sebagai sumber semua tarekat. Mengingat kegagalan atau kemudharatan itulah syekh tarekat melarang muridnya menziarahi murid atau syekh yang lain. Syekh Amin Kurdi An Naqsyabandi dalam kitab beliau Tanwirul Qulub halaman 527, beliau menyatakan bahwa: ان يمنع اصحابه ان يجلسوا اصحاب شيخ اخر فإ ن المضرة بذالك سريعة بالمريدين فإ ن رأ هم ثابتين فى محبته ولم يخف عليهم التزلزل فلا بأس Wajib bagi seorsang guru melarang para muridnya (sahabatnya) bergaul (sekedudukan ) dengan murid syekh yang lain, karena yang demikian itu mempercepat datangnya kemudharatan bagi murid. Maka, jika menurut pandangan guru, mereka memiliki kemantapan mahabbah kepada syekhnya dan guru tersebut tidak mengkhawatirkan muridnya ditimpa keraguan, maka tidak jadi persoalan (diperbolehkan ziarah). Selanjutnya Syekh Amin Kurdi dalam kitab Tanwirul Qulub halaman 528, memberikan peringatan agar muridnya mantap mahabbahnya terhadap syekh, dan berkeyakinan bahwa ia akan berhasil mencapai tujuan dalam tarekat berkat bimbingan gurunya, sebagaimana ungkapan beliau berikut ini. ان يوقر المريد شيخه ويعظمه ظاهرا او باطنا معتقدا انه لا يحصل مقصوده إلا على يده وإذا تشتت نظره الى شيخ اخر حرمه وافسد عليه الفيض “Seorang murid hendaknya selalu menghormati dan memuliakan (mengagungkan) gurunya zahir dan batin serta berkeyakinan bahwa ia tidak akan berhasil mencapai tujuan tarekat melainkan atas bimbingan gurunya. Dan jika pandangananaya tercerai (tertujua) pada syekh yanag lain, haram dan rusaklah pemberian madad (karunia rohaniah) untuknya”. Hal senada juga dikemukakan oleh Syekh Dardir, katanya : ومنها ان لا يزور احدا من الصالحين مادم تحت التربية قبل الكمال خوفا من ان يرى كرامة او خلقا لم يره فى شيخه فيعتقد فى شيخه النقص فيحرم مدده (الفتح الربانى : -٣٣-) Dan sebagian adab murid ialah tidak ziarah pada seorang syekh selama ia dalam pendidikan yang belum mencapai kesempurnaan, karena dikhawatirkan apabila ia melihat kekeramatan atau akhlak yang tidak ia lihat pada syekhnya, lalu ia anggap syekhnya ada kekurangan , maka putuslah madadnya. Syekh Abdul Wahab Asy Sya`rani dalam kitab Anwar Al Qudsiah ada mengemukakan: ومن شأنه ان لا يزور احدا من أشياخ العصر إلا بإذن شيخه صريحا او تعريضا ولو كا ن ذلك المزور من اكبر اصدقاء شيخه فان شرط المريد ان لا يكون له إلا شيخ واحد “Dan sebagian adab murid yaitu tidak boleh ziarah kepada salah seorang syekh pada masanya melainkan setelah mendapat izin dari syekhnya secara terang dan jelas, walaupun syekh yang akan diziarahi itu teman gurunya yang paling besar karena syarat seorang murid hanya menetapoi satu orang guru” Kemantapan mahabbah pada gurunya jangan sampai diartikan boleh membenci dan menghina syekh yang lain, amit-amit, yang demikian jangan samapai terjadi. Oleh karena itu untuk mencapai kesempurnaan dalam bimbingan guru menuju hadhrah Allah diperlukan kemantapan mahabbah pada syekhnya. Karena itulah ada larangan ziarah bagi murid yang kemantapannya dalam bertarekat masih diragukan. Jadi ziarah yang dilarang dalam tarekat adalah ziarah yang menyebabkan ta`alluqat batin terhadap orang yang ia ziarahi. Ia tenggalam dan tergantung hatinya terhadap orang yang ia ziarahi sehingga melupakan atau membelakangi syekhnya sendiri. Sadar atau tidak sadar ia akan mengharapkan atau meminta limpahan madad pada orang yang ia ziarahi, padahal ia memiliki syekh yang bisa memberikan madad pada dirinya, lalu mengapa harus meminta pada orang lain. Inilah yang dimaksudkan para masyaekh dengan pernyataan seorang syekh disisi kaumnya seperti Nabi di sisi umatnya. Mari kita ikuti ungkapan yang ada dalam kitab Bughyatul Mustafid halaman 300 berikut: إن الشيخ فى قومه كالنبى فى امته فلا بد للمريد ان يتوجه الى شيخه بربط قلبه معه ويتحقق ان الفيض لا يجيء إلا بواسطته وان كان الأولياء كلهم هادين مهتدين يعتقد كلهم ويدعو لهم لكن استمداده الخاص واستفاضته تكون من روحانيته شيخه واحده ويعلم ان استمداد من شيخه استمداد من النبى ص م فان شيخه متعلق مستمد من شيخه وشيخه من شيخه ايضا وهكذا الى رسول الله ص م .(بغية المستفيد : ٣٠٠) “Seorang syekh di sisi kaumnya seperti Nabi di sisi umatnya, oleh karena itu mau tidak mau seorang murid harus bertawajjuh kepada syekhnya dengan jalan hatinya selalu bersama syekhnya (cinta dan rindu). Dan berkeyakinan bahwa karunia (limphan madad) tidak akan didapatnya melainkan dengan perantaraan syekhnya. Walau semua wali bisa memberikan petunjuk dan bimbingan, dan ia pun mempercayai mereka. Namun, curahan madad dan limphan karunia rohani secara khusus diterimanya dari syekhnya seorang. Dan ia tahu bahwa pemberian madad dari syekhnya itu adalah istimdad dari Nabi swa. Karena sesungguhnya syekhnya mendapat madad dari gurunya, dan gurunya itu mendapat madad dari gurunya juga, hingga sampai kepada Rasulullah Saw”. Tarekat dibangun atas dasar tauhid murni. Oleh karena itu tidak boleh musyrik dalam tarekat, sebagaimana ungkapan Syekh AsySya`rani dan Abu Yazid pada pembahasan terdahulu. Apa makna perkataan beliau itu? Bisa kita Pahami, apabila kita ziarah kepada syekh lain, lalu kita terhijab atau lupa kepada syekh kita sendiri, berarti kita sudah jatuh pada mensyarikatkan syekh. Jadi apapun yang kita teriman baik berupa kebaikan atau ilmu pengetahuan walau kita dapat dari guru yang lain, hendaknya tidak memalingkan pandangan kita dari syekh kita sendiri. Kita tidak dilarang ziarah silaturrahim dan menuntut ilmu pengetahuan kepada para ulama yang lain, namun ingat kemantapan terhadap tarekat atau syekh jangan sampai berkurang. Dalam kitab ar Rimah juz I halaman 145 kita temukan pernyataan sebagai berikut: ان شيخنا رضى الله عنه وارضاه وعنا به لم يعمم لأنه ما منع احدا من اهل طريقته من التعلم من جميع الأولياء والعلماء ولا من حضور مجالسهم ولا من اسماع موعظهم وكلامهم ولا من التواصل فى الله وفى الرحم “ Bahwasanya, Syekh Ahmad At Tijani RA. tidak melarang ziarah secara umum, oleh karena itu beliau tidak melarang seorang pengikut tarekatnya menuntut ilmu kepada semua wali dan ulama, tidak melarang menghadiri mejelis mereka, tidak melarang mendengarkan nasehat dan pembicaraan mereka dan tidak melarang menyambung tali silaturrahim karena Allah” Bahkan beliau Ra. menganjurkan: زوروا فى الله تعالى وواصلوا فى الله تعالى واطعموا فى الله تعالى مالستطعتم فى غير تعسير ولا كد “Ziarahlah kalian karena Allah, hubungkan tali silaturrahim karena Allah, berilah makan karena Allah, semampu kamu tanpa kesusahan dan kepayahan”. Sebenarnya ziarah tidaklah jadi persolan, yang dipersoalkan adalah keadaan hati si murid itu sendiri. Apakah ia memiliki kemantapan batin terhadap syekh Tijani atau tidak, karena walaupun ia tidak ziarah tetapi batinnya cenderung pada syekh lain, ini yang jadi persoalan. Pernah seorang murid Syekh Tijani membaca kitab karya Syekh Sya`rani, saat itu tersangkut hatinya pada syekh tersebut dan lupa terhadap Syekh Tijani. Hal ini diketahui oleh Syekh Tijani. Dari jarak perjalan ribuan kilo meter, beliau datangi murid beliau itu. Dan beliau memberi taguran “ Engkau ini Sya`rani ataukah Tijani”. Untuk keberhasilan dalam menjalani tarekat, bagi murid tazalzul, murid yang belum mengerti masalah ziarah yang boleh atau yang dilarang, hendaknya menghindari ziarah. Setelah mengetahui hikmah pantangan dalam tarekat , perlu juga kita juga kita uraikan anjuran-anjuran dalam tarekat atau syarat-syarat yang lain, sebagai kesempurnaan dalam menjalani tarekat. Bagi pemegang tarekat Tijani wajib salat lima waktu dan sangat dianjurkan dengan berjamaah. Memang agama kita sudah menganjurkan demikian. Tetapi dalam tarekat Tijani dijadikan syarat bagi yang ingin masuk tarekat Tijani. Ini adalah penguat untuk merialisasikan ajaran agama Islam itu sendiri. Artinya bagi Orang Tijani tidak ada istilah meninggalkan syariat, dan tidak ada istilah meninggalkan salat. Disamping salat lima waktu Syekh Tijani sangat menganjurkan murid-murid beliau mengerjakana salat tahajjud . Pernah suatu ketika murid beliau mengadu keopada beliau, bahwa ia sangat berat untuk bisa melakukan salat tahajjud, maka murid itu disuruh belian untuk melepas tarekat, karena tarekat Tijani tidak cocok dengan orang yang malas melaksanakan salat Tahajjud. Orang yang meninggalkan salat tahajjud saja sudah ditegur sedemikian rupa oleh syekh. Lebih-lebih orang yang meninggalkan salat fardhu. Ini berarti tarekat Tijani menghendaki murid-muridnya agar menjadi ahli ibadah. Dengan mengetahui hal ini, maka tertolak anggapan orang yang mengatakan bahwa orang tijani malas dalam beramal, karena terlena memandang fadhilah shalawat fatih. Permasalahan ini akan dibahas lebih lanjut pada topik bahasan “Jadikan Dhmanat dan Fadilah Terekat Sebagai Motivasi, Bukan Tujuan Akhir”. Sayarat dan anjuran yang lainnya adalah Takwa zahir dan batin sesuai dengan kemampuan. Jika terjadi pelanggaran syar`i wajib segera bertobat. Sebagaimana uraian di atas, syarat ini pun sebagai penguat dan pendorong umat islam untuk merealisikan ajaran Islam. Artinya dengan masuk tarekat Tijani, orang akan benar-benar memperhatikan anjuran takwa. Untuk mengetahui syarat yang lebih rinci bisa kita baca dalam kitab Addurarussaniyah. Kita temukan 29 syarat yang bisa kita kelompokkan menjadi dua bagian, yaitu : Syarat calon pengamal tarekat, dan syarat setelah menjadi murid tarekat. Syarat setelah menjadi murid tarekat diantaranya membahas tentang hubungan murid dengan syek. Hubungan Murid dengan syekh lain, manusia umum, termasuk orang tua dan suami. Tata krama atau adab mengerjakan wirid dan kesempurnaannya. Dan adab terhadap diri sendiri. Jadi semua syarat dan pantangan dan tata aturan yang ada dalama tarekat yang kita pegang herus diperhatikan dengan sungguh-sungguh, kemudian dilaksanakan dengan penuh keyakinan. Dengan demikian insyaallah kita akan meraih kesuksesan bertarekat. wallahua`lam. Yakin dengan Tarekat Tiajani Akan Sampai pada Tujuan Banyak ayat al Qur`an menyebutkan iman dan amal saleh secara beriringan. Ini menunjukkan kepercayaan atau keyakinan adalah pondasi dasar yang kita miliki. Percaya dan yakin dengan tarekat yang kita ambil dan percaya dengan apa-apa yang berhubungan dengan tarekat, baik syarat, keutamaan tarekat, kedudukan syekh Tijani sebagai Saidul Aulia, dan hal-hal lainnnya. Kepercayaan dan keyakinan itu merupakan pondasi untuk meraih keutamaan dan keberhasilan dalam bertarekat. Yang tak kalah pentingnya adalah kita harus percaya dan yakin bahwa kita akan sampai pada tujuan tarekat, yaitu wushul ilallah. Dalam kitab Ar Rimah jilid I hal 23 disebutkan bahwa: الشيخ الواصل حبل الله فى ارضه فمن تعلق به وصل واما غير الواصل فمن تعلق به انقطع “Syekh washil adalah ibarat tali Allah di bumi, barang siapa bergantung kepadanya, niscaya ia akan washil juga. Adapun syekh yang tidak washil, siapa yang bergantung kepadanya akan terputus (tidak akan wushul ilalla).” Sebaliknya orang yang tidak percaya dengan tarekat atau ragu-ragu dengan tarekat yang ia ambil tidak akan memperoleh keutamaan tarekat yang ia ambil, karena masih dalam keragu-raguan. Bahkan ada diantara ikhwan kita ( termasuk ulama) yang tadinya masuk Tarekat Tijani, karena ada ungkapan-ungkapan dalam Tarekat yang menurutnya tidak lazim, menurut pemahamannya, sehingga timbul keraguan dan akhirnya menyatakan secara tertulis keluar dari Tarekat Tijani, bahkan sampai menggelar Dialog untuk memojokkan Tarekat Tijani. Na`uzubillah min zalik. Menurut KH. Fauzhan: Haram bagi ikhwan Tijani mengikuti imam (bermakmum) kepada orang yang pernah masuk Tijani kemudian keluar dari Tijani bahkan memusuhi Tarekat Tijani. Ada juga saudara kita yang tidak percaya dengan tarekat, bahkan tarekat dikatakan sebagai bid`ah. Tidak percaya dengan karamatnya para wali. Menganggap tarekat menjerumuskan manusia kepada perbuatan syirik, karena katanya orang tarekat senang memuji-muji wali, meminta kepada wali. Tidak percaya dengan tawasul. Langsung saja katanya meminta kepada Allah. Orang-orang yang beranggapan seperti ini jangankan mengambil Tarekat, mendengar nama Tarekat saja mereka elergi, bahkan memusuhi orang-orang tarekat. Yakinlah dengan bergabung pada salah satu tarekat muktabarah, kita akan sukses meraih keselamatan, kebahagiaan dunia akhirat, dan mendapatkan keridhaan Allah.

Bingkisan Rindu 4

Pelajaran Terakhir di Liang Lahat PENDAHULUAN Salah pemahaman, tidak mengerti, bahkan tidak tahu persoalan sebenarnya merupakan penyebab timbulnya persoalan atau permasalahan yang baru. Baik dalam memahami persoalan kehidupan dunia, lebih-lebih persoalan agama. Kalau kita mengetahui ada permasalahan yang di luar jangakauan pemahaman, kita hanya berdiam diri, tidak mau bertanya kepada orang yang mengerti betul tentang permasalahan itu, sampai kapan pun permasalahan itu tidak akan terjawab dan tidak akan terpecahkan. Bahkan, kita sudah bertindak tidak adil, memponis apa yang belum kita mengerti sebagai suatu kesesatan, padahal kita belum tabayyun, belum mendapat penjelasan tentang persoalan yang sebenarnya. Setelah mendapat penjelasan, dengan mengemukakan argumen-argumen yang sesuai dengan logika ditambah dengan dalil-dalil yang menguatkannya, ternyata kita masih belum bisa menerimanya, berarti kita sudah terjebak pada kesombongan, yakni tidak mau menerima kebenaran. Diantara persoalan yang sering menimbulkan berdebatan panjang adalah kajian di bidang ilmu tasauf atau tarekat. Kalau memang kita belum tahu atau belum mengerti tentang ilmu tasauf atau tarekat hendaknya kita belajar dan bertanya kepada ahlinya. Karena malu bertanya sesat di jalan. Sebagai contoh, kalau permasalahannya sudah di luar jangkauan akal dan pengetahuan kita, seperti perjumpaan seseorang dengan Rasulullah secara jaga, atau persoalan alam gaib atau ukhrawi. Hal ini memang sudah masuk pada ranah Nubuah (kenabian) dan kewalian yang sulit dicerna dengan akal. Hal semacam itu tentu bisa kita terima kalau dicerna dengan iman, bahwa apa-apa yang disampaikan oleh Rasulullah tentang khabar yang bersifat ukhrawi seperti adanya Malaikat, hari kiamat, adanya surga dan neraka, dan yang lainnya. Pernahkah kita melihat surga, atau neraka, pernahkah kita melihat Malaikat? dari mana kita mengetahui adanya semua itu? tentu tidak lain dari pengkhabaran yang disampaikan Rasulullah. Mengapa kita percaya? Karena kita beriman dan percaya dengan beliau yang tidak pernah berbohong. Kalau dibaratkan, kita sebagai orang yang buta tentu saja percaya pada orang yang melihat. Lain halnya dengan orang yang tidak percaya, tidak beriman kepada Rasulullah. Ilmu tasauf atau ilmu tarekat erat kaitannya dengan masalah nubuah dan kewalian. Oleh karena itu apa-apa yang disampaikan Rasulullah dan para Wali Allah, para masyaikh yang sudah berpengalaman dalam bidang tasauf atau ilmu tarekat, hendaknya dengan penuh keyakinan kita terima dan kita percayai. Apabila kita mempercayai dan meyakininya tentu saja kemanfaatannya terpulang pada diri kita juga. Karenanya bagi kita yang menginginkan kesuksesan dalam menempuh jalan para wali Allah melalui jalur Tarekat, yakni wusul ilallah, ma`rifat ilallah perlu menggali dan mengenal lebih mendalam tarekat yang kita pegang, melalui untaian mutiara hikmah yang disampaikan oleh para Masyaikh yang bisa kita gali dari kitab-kitab mereka. Dan jangan lupa hendaknya kita senantiasa bertanya pada guru-guru kita tentang persoalan yang belum dimengerti. Sebagai ikhwan Tijani (pemegang Tarekat Tijani), alfaqir ilallah ingin berbagi kepada sesama ikhwan dan akhawat tentang sedikit yang saya ketahui, sambil membelajarkan diri terus menerus, berlatih dan berlatih. Saya bukan guru dan bukan pula muqaddam, saya hanyalah seorang murid Syekh Tijani. Saya sangat bersyukur menjadi Murid beliau, semoga beliau senangtiasa meridhai dan mengakui dan menerima saya sebagai murid beliau dunia-akhirat. Oleh karena itu kepada para guru dan para muqaddam, apabila dalam tulisan ini nanti menurut para Masyaikh dan para Muqaddam Tarekat Tijani ada kekeliruan, berilah saya bimbingan dan masukkan. Wasalam, TAREKAT Pengertian Tarekat Kata Tarekat diambil dari Bahasa Arab ( طريقة ) yang berarti metode, cara, sistem, (Atabik Ali, 2003:795) Menurut KBBI halaman 1011, Tarekat berarti jalan, jalan menuju kebenaran, cara atau aturan hidup. Senada dengan itu KH. Haderanie dalam buku beliau Ilmu Ketuhanan (Ma`rifah, Musyahadah, Mukasyafah,Mahabbah =4 M) menyebutkan bahwa Tarekat (Thoriqat) persamaan katanya menurut bahasa ; Mazhab yang artinya “jalan”. Mengetahui adanya jalan, perlu pula mengetahui “cara” melintasi jalan agar tidak kesasar. Menurut M. Yunus A. Hamid (2008, 186) Tarekat adalah jalan / cara/ metode implementasi syariat. Yaitu cara atau metode yang ditempuh seseorang dalam menjalankan syariat Islam, sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah. Secara umum tarekat bisa diartikan segala sesuatu yang dilakukan sebagai jalan atau sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah baik yang wajib maupun sunat. Jadi orang yang melaksanakan syariat disebut orang yang bertarekat. Selanjutnya beliau membagi tarekat menjadi dua, yaitu tarekat `am (umum) dan tarekat khas(khusus). Tarekat umum sebagaimana dikehendaki pada pengertian yang beliau sebutkan sebelumnya. Sedangkan Tarekat khusus yaitu melaksanakan hukum syariat Islam melalui bimbingan lahir dan batin dari seorang guru. Sementara dalam buku Mengenal Thriqah oleh Tem penulis Panitia Muktamar ke 10 Jam`iyah Ahli Al Thariqah Al Mu`tabarah An Nahdliyyah 1426 H/2005 M, halaman 2 menyebutkan dengan dua istilah, yaitu Thariqah Syari`ah dan Thariqah Wushul. Tarekat dalam pengertian secara khusus atau tarekat wushul yaitu tarekat yang biasa disebut atau dinisbahkan kepada pembina atau pendiri tarekat, seperti Tarekat Tijaniyah yang dinisbahkan pada Syekh Ahmad bin Muhammad At Tijani. Tarekat Qadiriyah oleh Syekh Abdul Qadir Al Jailani, Tarekat Samaniyah oleh Syekh Samman Al Madani, Tarekat Syazaliyah oleh Syekh Abu Hasan As Syazali dan lain-lain. Prof. Dr. Abu Bakar Aceh (1996: 63) menegaskan bahwa menurut kayakinan Sufi, orang tidak akan sampai kepada hakikat tujuan ibadat, haqiqah, sebelum menempuh atau melaksanakan jalan ke arah itu. Jalan itu dinamakan Thariqah, dan orang yang melaksanakan itu dinamakan ahli thariqah atau salik. Dalam hal ini Tarekat secara khusus dapat kita simpulkan, yaitu sarana atau jalan yang ditempuh seseorang dengan melakukan amaliah berupa zikir-zikir dengan metode atau cara – cara tertentu melalui bimbingan seorang guru (Mursyid) setelah mendapat izin atau talqin sebagai pemegang tarekat yang memiliki sanad muttasil sampai kepada Rasulullah setelah memenuhi persyaratan tertentu, sebagai sarana pembersihan batin untuk mencapai ke makrifatan dan meraih keridaan Allah/ wushul ilallah. Sekadar diketahui dalam penulisan kata Tarekat, ini berdasarkan penulisan ejaan Bahasa Indonesia, sementara ada kata Thariqat /Thariqah yaitu merujuk pada penulisan asli Bahasa Arab, ini tidak perlu diperdebatkan. Dari pengertian tersebut, dapat kita ambil beberapa komponen yang terkandung dalam tarekat, sekaligus sebagai cirri khas tarekat itu sendiri, yaitu: Adanya murid (pemegang atau pengamal tarekat) yang dalam istilah tasauf disebut Salik. Yaitu orang yang berjalan mendekatkan diri kepada Allah. Guru pembimbing (Syekh Murabbi/Mursyid/Muqaddam) yang memberi izin atau talqin. Memiliki syarat-syarat tertentu Ada amaliah berupa zikir-zikir dan doa Adanya pengijazahan atau talqin Adanya metode atau cara dan adab-adab tertentu baik bagi murid ataupun guru serta adab dalam berwirid dan adab kepada sesame pemaegang tarekat, adab terhadap saudara muslim yang lain. Berfungsi sebagai sarana pembersih batin atau pengobatan hati Penamaan Tarekat dinisbahkan pada pendiri Tarekat (shahibuttarekat) Bertujuan untuk wushul ilallah, ma`rifat kepada Allah. Memiliki sanad (rabithah) yang bersambung sampai kepada Rasulullah. Dengan memahami pengertian dan komponen tarekat tadi, ada istilah zikir, doa atau hizib yang tidak dimaksudkan sebagai amaliah tarekat khusus./tarekat wushul, seperti Dalailul Khairat oleh Syekh Jazuli, Hizib Bahar oleh Syekh Abil Hasan As Syazali, Hizbus Syaifi dan Hizib Mughni dan Hizib Bahar Syekh Ahmad bin Muhammad At Tijani, dan yang lainnya belum bisa disebut tarekat khusus, tetapi dimasukkan pada kategori tarekat secara umum, yakni salah satu amaliah sunah untuk pendekatan diri kepada Allah. Amaliah berupa doa-doa atau hizib dan bacaan-bacaan lainnya ini biasanya diberikan sebagai penunjang atau tambahan dari zikir tarekat khusus, bagi murid yang sudah dianggap ruhaniahnya sudah mulai meningkat. Wirid atau amaliah seperti ini dalam Tarekat Tijaniah disebut dengan wirid ikhtiariyah. Untuk mengamalkan doa atau hizib ini pun diperlukan izin atau ijazah yang benar yang diambil dari guru yang memang berhak memberikannya. Pentingnya Tarekat Seseorang akan rela mengeluarkan biaya yang besar, demi menjaga kebugaran tubuh, menjaga kesehatan badan. Ia rela membeli apa saja , mulai dari peralatan senam sampai pada obat-obatan penambah stamina. Begitu pula orang yang sakit, ia akan berusaha dan rela mengeluarkan uang yang banyak untuk pengobatan. Berapapun biaya yang akan dikeluarkan tidak jadi masalah, yang penting dirinya harus sembuh dan kembali sehat. Mengapa orang sanggup mengeluarkan biaya yang begitu banyak? Jawabannya tidak lain, karena mereka merasakan begitu pentingnya kesehatan, percuma punya uang banyak kalau orangnya sakit. Kesehatan fisik memang penting, namun, jangan lupa, kita adalah makhluk yang punya dua demensi , yaitu demensi fisik dan demensi rohani. Aspek fisik bersifat duniawi sedangkan rohani bersifat ukhrawi. Yang manakah yang lebih kita utamakan? Agama memberikan tuntunan bahwa akhirat yang diutamakan, sebagai mana firman Allah dalah surah Ad Dhuha : 4. وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْأُولَى -٤- “Dan sesungguhnya akhirat lebih baik bagi kamu dari dunia”. Kalau kesehatan fisik kita anggap penting, maka kesehatan batiniah (rohani) tentu lebih penting. Kalau sakit fisik , kita segera berobat dan sanggup mengeluarkan biaya yang banyak, mangapa untuk penyakit batin, kita tidak segera berobat? Padahal penyakit batin jauh lebih berbahaya ketimbang penyakit fisik. Kalau kebersihan fisik telah kita jaga , mengapa kebersihan batin kita abaikan? Padahal yang dipandang Allah bukan rupa yang cantik dan penampilan fisik yang memikat, melainkan kebersihan batin atau hati yang menjadi tilikan Allah. Nabi bersabda : إِنَّ الله لا يَنْظُرُ إِلى أَجْسامِكْم ، وَلا إِلى صُوَرِكُمْ ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعمالِكُمْ رواه مسلم . Artinya : Sesungguhnya Allah tidak memandang (menilai) bentuk tbuhmu dan tidak pula memandang rupa (ketampanan dan kecantikan) mu, tetapi Allah menilai hati dan amalmu. Mencermati kandungan hadits tersebut, ternyata Rasulullah mendahuluhan hati, kemudian baru amal, ini menunjukkan kedudukan hati memiliki peran yang penting. Artinya dengan hati yang bersih, hati yang salim akan melahirkan amal yang saleh yang bernilai di sisi Allah. Sebaliknya banyak orang beramal, namun tidak ada nilai di sisi Allah lantaran hatinya kotor. Beramal hanya sekadar menggugurkan kewajiban, itu pun kalau tidak bangkrut, bahkan menanggung beban dosa untuk membayar kerugiannya, gara-gara hatinya terjangkit penyakit dengki. Na`uzubillah. Pantas saja Rasulullah bersabda: ان فى الجسد مضغة اذا صلحت صلح الجسد كله واذا فسدت فسدالجسد كله الا وهي القلب Artinya : Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging, bila baik maka baiklah semua tubuh, dan apabila rusak maka rusaklah semua tubuh, ketahuilah ialah yang disebut hati. Kalau kita mencintai harta. Tentu kita tidak rela harta kita dirampok orang. Tidak ingin rumah kita dimasuki pencuri. Untuk menjaga agar rumah kita tidak dimasuki pencuri, kita buat pagar, kita kunci rapat-rapat pintu dan jendelanya. Namun, mengapa hati ini kita biarkan dimasuki syaitan untuk mencuri iman kita, sehingga membuat kita malas beribadah, cenderung kepada kejahatan dan kemasiatan, kurang senang kepada kebaikan, bahkan menjadi pengahalang orang lain dalam berbuat kebaikan dan menjadi penganjur berbuat kejahatan dan kerusakan. Padahal hati inilah barang yang paling berharga yang mesti kita jaga. Konsekuensi atau akibat penyakit fisik, seperti kangker hanya sebatas di dunia, apabila kita meninggal dunia penyakit kangker itu pun hilang dengan sendirinya seiring lepasnya roh dari badan, namun, apabila kita mengidap penyakit batin, seperti hasad dan sombong, walau sudah meninggal dunia akan berakibat fatal sampai ke negeri akhirat. Yang terparah lagi di dunia mengidap penyakit lahir, dengan penyakit itu menyebabkan kita tidak bersabar, bahkan mengumpat dan mengatakan Tuhan tidak adil. Kalau tidak tobat, kita akan sengsara dunia dan akhirat. Di dunia sudah ditimpa sakit, di akhirat pun menerima siksa. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Kemanakah kita mencari dokter yang ahli mengobati batin ? Dimanakah tempat yang aman untuk menjaga dan membentengi hati kita? Jawabannya ada pada tarekat. Terkait dengan permasalahan pentingnya tarekat, alangkah baiknya kita coba menggali uraian atau ungkapan-ungkapan para Masyaikh, para muqaddam dan orang-orang yang berpengalaman dan menggeluti ilmu Tarekat. Saidi Syekh Muhammad Al Futi dalam kitab beliau “Ar Rimah” (hamisy kitab Jawahirul Ma`ani) halaman 93 bab ke 12 mengemukakan: يجب على كل عاقل يريد تخليص نفسه من الرذائل النفسانية المردية عاجلا و اجلا طلب شيخ مرشد متبحر فى العلوم عارف بالعيوب والعلل ناصح فيلقى اليه القيادة ويتبع امره ولا يخالفه فى شيئ Artinya : Wajib bagi setiap orang yang berakal yang menginginkan kesucian dirinya dari kehinaan hawa nafsu dan syaitan, bersegera mencari guru mursyid yang luas ilmunya yang dapat mengenali cacat, dan penyakit batin. Syekh yang dapat memberikan nasehat dan bimbingan kepadanya. Mengikuti segala anjurannya, dan tidak membantahnya dalam setiap hal. Menurut Syekh Tijani ra. Wajib disini bukan berarti wajib dalam arti syara`, tetapi wajib secara hukum akal (logika). Beliau mengibaratkan sebagaimana seseorang yang kehausan yang sangat membutuhkan air, apabila ia tidak mencarinya, maka ia akan binasa. Mau tidak mau ia wajib mencari air tadi. (lihat kitab Jawahirul Ma` ani halaman 163 jilid I). Selanjutnya beliau mengibaratkan orang sakit, yang menghajatkan pengobatan dan kesembuhan, tentu orang tersebut harus segera berobat, kalau perlu mencari dokter spesialis. Kalau pengibarantan itu kita perluas, tarekat ibarat rumaha sakit, syekh sebagai dokter spesialis dan murid sebagai pasiennya. Jadi bagi pasien yang menginginkan kesembuhan ia harus berobat ke rumah sakit, tempat ia dirawat secara intensif oleh dokter spesialis. Sebagai seorang awam yang jauh dari generasi sahabat Rasul, tentu saja kita tidak terlepas dari penyakait batin, dan penyakit itu terus mengintai kita, kita perlu mengobati dan mencegahnya agar tidak datang menyerang. Kita memerlukan seorang dokter spesialis dan terus-menerus berkonsoltasi kepadanya. Ubaidah Sangqithi berujar sebagai berikut: فعلم ان كل من لم يتخذ له شيخا يرشده الى الخروج من هذه الصفات فهو عاص لله تعالى ولرسوله لانه لا يهتدى الى طريق العلاج بنفسه بغير شيخ ولو حفظ الف كتاب فى العلوم (الجيش الكفيل : ١٠٥) Artinya : Telah dimaklumi bahwa setiap orang yang tidak memiliki Syekh yang membimbing dirinya keluar dari sifat-sifat tercela, ia masih dianggap maksiat kepada Allah dan Rasulnya. Karena ia tidak bisa menunjuki jalan pengobatan bagi dirinya sendiri tanpa seorang syekh, walaupun ia hapal seribu kitab. Selanjutnya dalam tarekat kita memiliki sanad atau sisilah amaliah tarekat yang bersambung dari guru ke guru sampai kepada shahibuttarekat dan sampai kepada Rasulullah Saw. Orang yang bertarekat, shahibut tarekat adalah sebagai gurunya melalui perpanjangan tangan para muqaddam atau murabbi (mursyid). Bahkan, bagi ikhwan Tijaniyah diakui oleh Rasulullah sebagai murid beliau disamping sebagai umat. Syekh Abul Abbas Al Mursi mengibaratkan orang yang bertarekat sebagai seorang anak yang memiliki ayah dengan silsilah keturunan yang jelas. Sebaliknya orang yang tidak bertarekat seperti seorang yang tidak diketahui siapa ayahnya dan sampai dimana nasab keturunannya. Sebagaimana ungkapan beliau sebagai berikut: كل من لم يكن له أستاذ يوصله بسلسلة الأتباع ويكشف له عن قلبه القناع فهو فى هذا الشأن لقيط لا أب له دعى لا نسب له (الرماح 1:٩٦) Artinya : Setiap orang yang tidak memiliki Syekh/ guru yang menghubungkannya dengan silsilah yang bersambung, maka terbuka topeng atau keduknya saat ini, ia adalah anak buangan yang tidak mempunyai ayah, yang dipanggil tanpa nasab keturunan. Kalau kita lihat dari segi orang yang ingin mendapatkan limpahan ilmu asrar, madad, mau tidak mau kita sebagai generasi yang sudah jauh dari zaman sahabat Rasul harus memiliki guru atau syekh. Karena orang yang ingin mendapatkan limpahan rohani tanpa melalui bimbingan guru sangat berbahaya. Seperti seorang yang mengamalkan bacaan-bacaan yang didapat tanpa ijazah atau izin guru, lalu ia masuk khalwat dan mengamalkan bacaan tadi tanpa berguru, ia tidak akan mendapatkan apa yang ia inginkan, kalaupun ada yang ia temui dalam khlawatnya hanya jin atau syaitan yang memberi petunjuk, yang besar kemungkinan bertentangan dengan syara`, seperti yang kita kenal di masyarakat dapat wangsit membunuh anak perawan dan lain sebagainya. Hal ini terjadi karena ia tidak menyadari dan tidak mengerti bahwa itu arahan dari syaitan atau jin, kemudian ia terima begitu saja. Disinilah bahaya seorang yang tidak memiliki pembimbing (syekh tarekat). Ini yang disenyalir oleh Syekh Abu Yazid dan ulama lainnya seperti ungkapan beliau sebagai berikut : من لم يكن له استاذ فامامه الشيطان( الرماح :٩٤) Artinya: Seseorang yang tidak meiliki syekh pembimbing, pembimbingnya adalah syaithan”. Hal yang senada juga dikemukakan oleh syekh Abdul Wahab As Sya`rani dalam kitab beliau Anwar Al Qudsiyah sebagai berikut: ثم اعلم يا أخي ان احدا من السلكين لم يصل الى حالة شريفة فى الطريق ابدا الا بملاقات الاشياخ ومعانقة الادب معهم والاكثار من خدمتهم. ومن ادعى الطريق بلا شيخ كان شيخه ابليس. فهو وان وقعت على يديه كرامة فهى استدراج ككرامة الدجال الاعور اذا خرج آخر الزمان (الأنوا القدسبة : -١١٨ ) Artinya: Ketahuilah hai saudaraku, sesungguhnya seorang salik tidak akan mencapai kedudukan yang mulia dalam tarekat selamanya, kecuali dengan menemui atau mencari para Masyaikh (untuk mendapat bimbingan), menjaga adab terhadap mereka dan memperbanyak berkhidmat kepada mereka. Dan ketehuilah, orang yang menempuh tarekat tanpa syekh, maka syekhnya adalah iblis. Dan jika ia memiliki kekaramatan, hal itu istidraj seperti keramat dajjal ketika ia muncul di akhir zaman. Sepertinya Syekh Abdul Wahab As Sya`rani sangat menekankan masalah tarekat ini, sampai – sampai beliau menghubungkannya dengan Dajjal. Ini tidak lain agar kita yang menginginkan keselamatan, betul-betul memperhatikan pentingnya tarekat dan bimbingan guru dalam mengarungi lapangan hakikat dan ma`rifat, sehingga usaha kita tidak sia-sia. Dalam kitab Jawahirul Khamas Juz ke 2 halaman 484 karya Imam Syekh Said Muhammad bin Khathiriddin bin Bayazid disebutkan: اعلم ايها السارى فى وكر الحقيقة وايها الراكب فى ميدان الطريقة ان الواجب على كل طالب ان يتفحص عن امام الطريقة. ويقتدى به بطريقة اللزوم. ياايها الذين امنوا اتقوا الله وابتغوا اليه الوسيلة شاهد عدل على هذه الأقوال. ومن تعرف الحقيقة بلا امام فقد كفر مشعر بهذا الحال فمن تهدي الى معرفة الطريق بلا شيخ فقد اشترى هلاك نفسه باختياره. Artinya : Ketahuilah hai orang-orang yang berjalan di lorong hakikat dan wahai orang-orang yang mengarungi lapangan tarekat, wajib atas tiap-tiap penuntut mencari imam tarekat dan mengikutinya secara konsesten. “Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) menuju kepadaNya” adalah keterangan (dalil) yang jelas tentang persoalan ini. Dan ketahuilah siapa yang mengenal atau mempelajari hakikat tanpa pembimbing, maka sungguh bertentangan dalil tersebut. Karena itu siapa yang menempuh perjalanan untuk ma`rifat tanpa Syekh, sungguh sia-sia atau hancur usahanya. Sebagai ilustrasi, misalnya kita yang tinggal di Banjarmasin ingin berangkat ke Surabaya, sementara kita tidak pernah sebelumnya ke Surabaya. Kita hanya kenal namanya saja. Apa yang harus kita lakukan? Kalau kita memilih perjalanan laut. Apakah kita harus beranang seorang diri, tanpa alat? Tentu saja tidak mungkin. Logis kalau kita mencari kapal laut. Kapal laut pun banyak, lalu kita pilih salah satunya dan kita serahkan sepenuhnya diri kita kepada nakhoda kapal yang sudah berpengalaman menempuh perjalanan laut. Tentu besar harapan bahwa kita akan sampai di Surabaya. Kalau kita pilih lewat udara. Tidak mungkin kita bisa terbang sendiri karena kita tidak punya sayap. Tentu saja akal kita akan mengatakan “Ya”. Kita harus menumpang pesawat dan menyerahkan sepenuhnya perjalanan itu kepada pilot yang sudah berpengalaman. Dapat dibayangkan, kita tempuh dengan berenang, atau hanya jalan kaki, sementara kita buta dan tidak mengerti seluk-beluk perjalanan itu dan belum pernah sampai dan belum mengenal Surabaya dengan sebenarnya. Keberhasilan akan sangat tipis, namun kesia-siaan yang akan kita dapat. Imam Gazali mewanti-mewanti kita sebagai murid agar mencari guru pembimbing, dengan ungkapan beliau sebagai berikut : اان المريد يحتاج الى شيخ واستاذ يقتدى به لا محالة ليهديه الى سواء السبيل. فان السبيل غامض وسبيل الشيطان كثيرة ظاهرة ومن لم يكن له شيخ يهديه قاده الشيطان لا محالة الى طريقه (الرماح : -٩٥- ) “Sesungguhnya seorang murid sangat memerlukan seorang Syekh dan guru pembimbing untuk menunjukinya ke jalan yang lurus. Karena sesungguhnya jalan agama itu tersembunyi, sedangkan jalan syaitan banyak dan kelihatan jelas. Dan siapa yang tidak memiliki syekh yang membimbing dirinya, jelas syaitanlah yang memimpin ke arah jalannya”. Bagi Ahlul bait atau zuriat Rasul, mereka memiliki pertalian darah dengan Rasul yang silsilah mereka terjaga. Lalu kalau kita, silsilah kita sampai di mana? Bahkan, mereka yang mulia diberi dua keutamaan yaitu silsilah keturunan (pertalian darah) dan silsilah ilmu. Kalau silsilah keturunan kita tidak sampai kepada Rasulullah, semestinya kita mencari guru yang sampai silsilah ilmunya kepada Rasulullah. Silsilah inilah sebagai penghubung kita dengan Rasulullah. Dari uraian di atas jelaslah bahwa tarekat itu sangat penting bagi setiap muslim yang menghajatkan keselamatan agama, keselamatan dunia dan kesejahteraan akhirat, ketenteraman dan kebahagiaan batin. Terutama yang memang benar-benar menginginkan kemakrifatan. Macam-Macam Tarekat Jumlah tarekat berdasarkan hadits Nabi sebanyak 360 tarekat, sebagaimana termaktub dalam Mizan Kubra Imam Sya`rani juz I halaman 30. Dalam kitab Rimah disebutkan sebanyak 313 tarekat. إن شريعتي جاءت ثلثمائة وستين طريقة ما سلك احد طريقة منها الا نجا Artinya : “ Sesungguhnya syariatku datang membawa tiga ratus enampuluh tarekat, siapa pun yang mengambil salah satunya, niscaya akan mendapat keselamatan”. إن شريعتي جاءت على ثلثمائة و ثلاث عشرة طريقة لا تلقى العبد بها ربنا الا دخل الجنة Artinya : Sesungguhnya syariatku datang membawa tigaratus tiga belas tarekat, Tuhan kami tidak akan memasukkan seorang hamba ke dalam suatu tarekat melainkan ia akan masuk syurga. Para ulama membagi tarekat menjadi dua macam, yaitu tarekat muktabarah dan ghairu muktabarah. Tarekat Muktabarah adalah tarekat yang diakui oleh para ulama ahli tarekat, baik sanad atupun amaliahnya bersumber dan bersambung sampai kepada Rarulullah. Sedangkan tarekat ghairu muktabarah yaitu yang tidak diakui oleh ulama ahli tarekat karena tidak terpenuhinya persyaratan tarekat muktabarah. Berdasarkan hasil Muktamar IX Jam`iyah Ahlith Thariqah Al Mu`tabarah An Nahdhiyah tanggal 26 – 28 Februari 2002 berjumlah 46 tarekat muktabarah yang berkembang di Indonesia. Termasuk salah satunya Tarekat At Tijaniyah. Untuk daerah Kalimantan Selatan yang cukup dominan perkembangannya sekitar lima atau enam Tarekat, misalnya Tarekat At Tijaniyah, Tarekat Sammaniyah, Tarekat Syazaliyah, Tarekat Naqsyabandiyah, Tarekat Qadiriyah, Tarekat Junaidiyah. Hubungan Tarekat dengan Tasauf Tarekat adalah bagian dari tasauf. Ibarat mata uang, kedua sisinya tidak dapat dipisahkan. Orang yang mempelajari tasauf, belum sempurna kalau tidak mengambil satu tarekat. Karena tasauf masih berupa konsep. Jangankan orang Islam, orang luar Islam pun mempelajari tasauf sebagai begian dari pengetahuan (ilmiah), sedangkan kita disamping ilmu (secara ilmiah) kita juga dituntut untuk mengamalkannya. Untuk mengamalkan tasauf itulah diperlukan ilmu tarekat. Misalnya, ilmu tasauf yang membahas konsep-konsep ketuhanan, seperti konsep fana dan baqa yang dikembangkan oleh Abu Yazid Al Bustami yang menggambarkan kedekatan diri seorang hamba dengan Tuhan yang disebut juga dengan konsep Ittihad, dengan tarekat beliau Bastamiyah atau Tuspuriyah. Konsep hululnya Al hallaj, Wahdatul wujudnya Ibnu Arabi, yang keduanya mengembangkan konsep Haqiqatul Muhammadiyah (Nur Muhammad). Kemudian konsep mahabbahnya Rabiatul Adawiyah, Konsep ma`rifatnya Zunnun Al Misri, konsep Tajalli, dan lain-lain. Dari konsep-konsep tersebut, ada sebagian ulama yang mengritisi sebagai suatu yang menyimpang dari ajaran Islam yang sebenarnya. Namun, di sini bukan bermaksud mengangkat hal yang demikian. Bukan wewenang kita manyalahkan konsep mereka yang sudah melanglang buana dalam dunia tasauf. Mereka adalah ulama-ulama yang sudah merasakan dan berpengalaman dalam mengarungi lautan ilmu hakikat dan makrifat. Sebagai orang awam kita tidak berani ikut-ikutan menyalahkan mereka, sementara kita, jangankan pernah menyelam lautan hakikat dan makrifat, mendengar istilah tasauf, tarekat, makrifat, kita masih elergi. Barangkali juga ulama yang mengritisi itu sebagai upaya untuk menyelamatkan umat dari kesesatan, sebagai kehati-hatian, karena dianggap sekarang ini hampir tidak ada lagi orang yang benar-benar ahli. Sehingga ada ulama yang melarang membaca kitab Futuhatul Makiyah Karya Ibnu Arabi, karena memang pembahasannya sangat pelik dan memerlukan rumus-rumus atau kiasan-kiasan tertentu untuk bisa memahaminya. Namun, kalau memang ada guru yang benar-benar ahli yang mencapai derajat kewalian, apa salahnya?. Ini pun barangkali untuk orang-orang tertenju juga, bukan konsomsi orang kebanyakan, karena adanya kekhawtiran salah penafsiran. Dari berbagai konsep yang kita kemukakan tersebut, apapun istilahnya, sampai dimana dan kemana pun i`tibar atau isyarat yang dipakai, semuanya tidak terlepas dari perbedaaan rasa (zauqiyah) sebagai pengalaman sepritual masing-masing. Pengalaman sepritual inilah yang mereka ungkapkan menjadi konsep tasauf yang berbeda-beda. Istilah atau i`tibar yang mereka kemukakan berbeda, karena untuk mengemukakan rasa tersebut, lidah (bahasa) tidak mampu menggambarkannya secara konkret. Jadi wajar terjadi perbedaan konsep, padahal yang ingin digambarkan adalah hal yang sama. Sebagai perbandingan, konsep pengetahuan bahwa gula itu manis. Sebelum mencicipi, tentu saja baru sebatas pengetahuan (ilmu yaqin). Kalau sudah mencicipinya, pengetahuan tentang gula tadi meningkat menjadi sebuah pengalaman dan menjadi keyakinan bahwa memang benar gula itu manis. Tatkala kita disuruh mendefinisikan manis itu seperti apa? Kata-kata terbatas, kita tidak sanggup menerangkannya secara kongkret. Sehingga masing-masing orang berbeda cara mengungkapkannya, tergantung intensitas kedalaman pemahaman, pengalaman dan pengahayatan terhadap rasa manis itu sendiri. Cara yang termudah bagi yang tidak sanggup mengemukakan bagaimana rasa manisnya gula, tentu saja dengan mengatakan; “ Ini yang dinamakan gula, coba kamu cicipi sendiri”. Pengalaman merasakan manisnya gula inilah sebagai ibarat dari tujuan dari ilmu tarekat. Orang tidak akan mencapai makrifat dengan sebenarnya, kalau belum pernah merasakannya, oleh karena itu untuk mencapai nilai rasa perlu adanya latihan-latihan (riyadhah) dengan mujahadah (kesungguhan) melalui bimbingan guru tarekat. Dengan kata lain tarekat adalah sarana pengembangan konsep tasauf yang berupa ilmu yakin untuk mendapatkan pembuktian dan merasakannya (ainul yaqin) sehinggu timbul keyakinan yang mantap tanpa keraguan lagi ( haqqul yaqin).*** Konsep Tasauf yang lainnya, seperti pembersihan batin. Secara disadari atau tidak, bagi yang mempelajari masalah tersebut, tahu betul bahwa riya, hasad, sombong, harus dihilangkan dari hati kita, bahkan kita diajarkan cara menghilangkannya. Ternyata penyakit itu susah dihilangkan dan masih bersarang di hati kita. Mengapa hal demikian bisa terjadi? Karena terus terang kita sebagai orang awam, kita tidak bisa mengobatinya sendiri. (lihat lagi ungkapan Syekh Ubaidah Sanqithi) sebagai mana uraian sebelumnya tentang pentingnya tarekat: فعلم ان كل من لم يتخذ له شيخا يرشده الى الخروج من هذه الصفات فهو عاص لله تعالى ولرسوله لانه لا يهتدى الى طريق العلاج بنفسه بغير شيخ ولو حفظ الف كتاب فى العلوم (الجيش الكفيل : ١٠٥) Artinya : Telah dimaklumi bahwa setiap orang yang tidak memiliki Syekh yang membimbing dirinya keluar dari sifat-sifat tercela, ia masih dianggap maksiat kepada Allah dan Rasulnya. Karena ia tidak bisa menunjuki jalan pengobatan bagi dirinya sendiri tanpa seorang syekh, walaupun ia hapal seribu kitab. Artinya kita belum menyempurnakan usaha kita untuk mengobati penyakit itu kepada dokter spesialis batin, yaitu mencari dan menemui guru murabbi/mursyid dalam tarekat. Kalau kita mau menyempurnakan ikhtiar kita dengan mengambil satu tarekat saja, sebagaimana hadits Nabi yang pernah kita ungkapkan sebelumnya, besar harapan kita bahwa penyakit itu akan sembuh. Barangkali kita tidak tahu seluk beluk yang namanya Riya, tetapi dengan mengambil dan mengalkan satu tarekat dengan bimbingan guru, hati kita tidak ada riyanya lagi. Sombong dan dengki menjauh. Inilah tujuan yang dikehendaki dalam tarekat, karena tarekat memang sebagai sarana untuk membersihkan batin. Adapun kecenderungan sebagian umat Islam yang mempelajari tasauf bukan pada sumber aslinya, justeru mempelajari tasauf kepada mereka yang bukan Islam (orientalis). Sepenuhnya tidak salah. Kalau saja hanya sebagai pembanding dan untuk meluruskan agar sesuai dengan sumber aslinya, sehingga kita tidak terjebak pada menghina dan menyalahkan tasauf sebagai sumber kemunduran Islam. Nauzubillah. Dan perlu diingat, jangan sampai kita mempelajari tarekat dengan tujuan mencari kekurangannya, sehingga cerderung menyalahkan dan memponis tarekat “ A “menyimpang, padahal tarekat yang kita salahkan sudah diakui kemuktabarahannya. Biasanya yang menyalahkan itu bukan pengamal suatu tarekat, mereka tidak pernah berkecimpung dalam dunia tarekat, mereka hanya sebagai pengamat, hanya menduga-duga, dan ternyata dugaan itu 100% bertolak belakang dari kenyataan. Atau bisa juga karena ada unsur hasud dan kesombongan dan merasa benar sendiri, sehingga orang yang berbeda menurut pandangannya dianggap salah. Masih banyak masyaikh yang ahli dalam bidang ilmu tarekat, oleh karena itu hendaklah rujuk kepada ahlinya. Jangan bertanya pada orang yang tidak senang pada tarekat tertentu lantaran kebencian, sehingga terjadi ketidakadilan. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ(المائدة: -٨-) Artinya :Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Jangan menduga ini salah menurut pendapat kita, padahal kita belum tabayyun, belum mencari keterangan kepada ahlinya. Kalau kita temukan rumus dan keterangan dari ahlinya, barulah kita sadar bahwa pernyataan kita keliru, kita yang tidak memahaminya. Kita yang berada di permukaan berani menduga dalamnya laut. Ketika kita mendapat penjelasan dari orang yang berenang dan berkecimpung serta menyelami dalamnya laut tarekat berulah kita maklum bahwa kita yang salah duga. Timbullah penyesalan, karena kita sudah menjatuhkan ponis yang kurang nyaman dan tidak menyamankan perasaan pemegang tarekat disebabkan kita hanya menduga-duga dan belum tabayyun. Oleh karena itu kita diingatkan oleh Allah dalam firmanNya. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ(الحجرات : -٦-) Artinya :Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ (الحجرات :-١٢-) Artinya :Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. Kalau sudah ada keterangan yang jelas tentang hal yang kita persoalkan. Namun, kita tidak bisa menerimanya, ini persoalan lain lagi. Bukan bicara kebenaran, tetapi kemungkinan besar sudah jatuh pada sintimen pribadi, berlaku jidal. Ibarat minuman atau makanan, bukan terletak pada minuman atau makanannya yang tidak enak, tetapi mulut kita yang seriawan, sehingga seenak apa pun makanan dan minuman itu tetap tidak enak. Jadi kalau ada persoalan tasauf atau tarekat, yang menurut kita ada yang kurang pas, karena mendapat informasi dari orang di luar tarekat, hendaknya ditanyakan pada ahlinya (pemiliknya). Sebagai contoh, Kalau kita ingin mengetahui tentang Tarekat Tijaniyah. Kita hanya membaca buku enseklopedi Islam yang hanya membahas selintas saja atau kita baca kitab Wudhuhuddalail yang berisi celaan dan tuduhan-tuduhan negatif terhadap Tijani. Padahal, tuduhan itu hanya menduga-duga yang sangat jauh berbeda dengan pemahaman yang dikendaki dalam tarekat Tijani. Yang dikhawatirkan, kita akan terjatuh pada i`tiradh (memusuhi, mencela, mengingkari) Wali Allah, yang pada intinya juga memusuhi, mencela, mengingkari Rasulullah. Apabila terjadi hal yang demikian, berarti kita sudah dinyatakan perang dengan Allah. Siapapun orangnya tidak bisa selamat kalau sudah berperang dengan Allah. Dalam Hadits Qudsi disebutkan: من عادى لى وليا فقد اذنته بالحرب Artinya : Barang siapa memusuhi waliku, maka Kuumumkan ia perang dengan Ku. Kitab-kitab tasauf atau Tarekat tidak bisa dipahami dengan hanya menggunakan akal dan pemahaman kita sendiri, tanpa izin dari guru, atau yang lebih khusus lagi tidak ada hubungan madadiyah secara langsung dari shabibuttarekat melalui silsilah. Otomatis tidak ada bimbingan dari shahibuttarekat, sehinga pemahamannya bisa menyimpang dari apa yang dimaksudkan oleh shahibuttarekat. Terlebih lagi kalau membaca kitab-kitab tasauf (khusus kitab tarekat Tijani) atas dasar kebencian dan permusuhan, dan bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk debat yang melahirkan prilaku jidal. Tentu saja tidak akan menemukan rumus-rumus dari hidayah Allah dalam memahami apa yang dibaca. Karena niat yang salah akan melahirkan pemahaman salah pula. Kita kemukakan permasalahan ini bukan berarti membatasi gerak umat Islam untuk mempelajari kitab-kitab tasauf, silakan saja, siapa pun bisa mempelajarinya. Namun, sempurnakanlah dengan mencari guru pembimbing dan bukalah mata hati dengan mengosongkan diri dari rasa memiliki, rasa berpangkat dan berkedudukan. Seperti yang dilakukan Nabi Musa ketika berguru kepada Khaidir, padahal pangkat dan kedudukan Nabi Musa adalah sebagai Nabi dan Rasul. Ilmu Tasauf, disamping sebagai ilmu, perlu diaplikasikan (diamalkan). Konsep tasauf mudah dibicarakan, tetapi sulit dalam praktik. Untuk praktik inilah tarekat (syekh murabbi) berperan di dalamnya. Sungguh tarekat dan Tasauf bersumber dari al Qur`an dan Hadits. Kalau ada orang yang beranggapan tarekat dan tasauf tidak bersumber dari Islam, tinggalkan saja anggapan itu. Jelasnya, tarekat dan tasauf tidak dapat dipisahkan. Keduanya adalah warisan Nabi dan ulama-ulama muhaqqiqin yang harus kita wariskan pada anak cucu kita. amin.

Bingkisan Rindu 3

Ciuman Terakhir Ketika, tubuh kaku sang ayah sudah mulai di balut dengan tiga lapis kain kafan. Sang isteri dan anak dipersilahkan memandangi kali yang terakhir dan memberikan ciuman terakhir pada sang ayah, isak tangis tak mampu ditahan, derai air mata tak mampu dibendung. Orang yang dicintai kini telah tiada. Yang dicium hanyalah jasad tanpa nyawa, dingin dan kaku tanpa kehangatan. Tidak berapa lama Sang isteri yang sangat mencintainya itupun menyusulnya ke alam baka. Kini tinggallah anak dan saudara. Apalah artinya ciuman kepada sang ayah atau ibu yang sudah menjadi mayat, kalau selama ini kita tak pernah membahagiakan mereka dengan tindak-tanduk yang mereka ridhai, kerja kita cuma bisa menghamburkan dan membanggakan harta orang tua. Kita tidak pernah membuat orang tua bangga, bahkan kita tega menoreh luka di hati mereka. Tidak salah kalau kita memberikan ciuman terakhir pada jasad orang tua yang sudah menjadi mayat, namun, ciuman dan kasih sayang kita hendaknya kita berikan selagi beliau sehat, selagi beliau hidup. Benar pepatah mengatakan, Kasih orang tua sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Seberapapun kasih sayang yang kita berikan kepada mereka tidak akan dapat dan selamanya tidak akan pernah menyamai dan tidak akan terbalaskan, walau kita menggendong orang tua kita berjalan mengelilingi dunia, semua itu tidak akan mampu membalas jasa mereka. Sebab merekalah kita ada, ingat dan bayangkan bagaimana ibu kita mengandung kita selama sembilan bulan sembilan hari, dengan susah payah dan rasa lelah yang mendera tanpa pernah mengeluh dan tidak menyesali dijadikan Tuhan untuk mengemban tugas mulia, mengandung sang anak. Bila sempurna umur kandungannya kita pun lahir ke alam dunia melalui perjuangan antara hidup dan mati. Rasa sakit yang diderita ibu tatkala melahirkan tidak beliau rasakan karena mendengar tangisan kita. Ayah yang mondar-mandir dengan gelisah menanti kelahiran kita menjadi tenang, dan senang. Bayi mungil itu mendapatkan sentuhan kasih sayang orang tua, ibu menyusui selama dua tahun. Awal-awal kehidupan kita sudah menyusahkan keduanya, tengah malam terbangun karena tangisan kita. Mulai memadikan, mengganti popok, menyusui dilakoni ibu penuh kesabaran. Pernahkah mereka minta hargai dengan uang atau harta pada kita sebagai tebusan terhadap jerih payah mereka ketika mengasuh dan membesarkan kita sampai jadi orang sekarang? Pernahkah orang tua kita minta ganti rugi berapa banyak keringat dan air susu yang tertumpah untuk membesarkan kita?. Sungguh semua itu dilakoni dengan ikhlas dan kesabaran. Pantaskah kita mendurkai mereka setelah kita tahu betapa besar pengorbanan mereka? Mari kita perhatikan Firman Allah dalam Surah Luqman ayat 14: وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ -١٤- Artinya : Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya (menyusui) selama dua tahun. Bersyukurlah kepada Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada Ku lah kamu kembali. Ciuman kasih sayang mereka sungguh tidak akan pernah terbalaskan dengan ciuman terakhir ketika beliau sudah menjadi mayat. Oleh karena itu ciumlah keduanya selagi mereka hidup, jangan menunggu mereka sudah menjadi mayat, dingin kaku, membujur di hadapan kita. Menyadari kasih sayang yang kita berikan tak akan mampu membalas kasih sayang orang tua, cukuplah kiranya kita senantiasa berupaya menata diri agar orang tua meridhai kita, berupaya jangan sampai menoreh luka di hati mereka. Baik perkataan maupun perbuatan kita. Karena Nabi pernah bersabda: “Ridha Allah tergantung ridha orang tua”. Kemudian tidak lupa mendoakan mereka agar senantiasa mereka mendapatkan curahan kasih sayang Allah, sebagaimana mereka berdua mengasih sayangi kita diwaktu kecil. Jangan sampai perkataan dan perbuatan kita menyakiti hati keduanya. Allah sangat melarang keras. Jangankan memukul, menyakiti pisik mereka, berkata ceh, hah, sudah dilarang keras oleh Allah. Begitu mulianya kedudukan orang tua, sehingga sebutan berbakti atau berbuat baik kepada keduanya disebutkan setelah perintah menyembah kepada Allah, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al Isra ayat 23 dan 24: وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُواْ إِلاَّ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلاً كَرِيماً -٢٣- وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيراً -٢٤- “Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu hanya menyembah Allah, dan berbuat baik kepada kedua orang tua, apabila salah satu atau kedunyaa sampai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali kamu mengatakan ceh/ah kepada keduanya, janganlah kamu membentak keduanya, hendaklah kamu berkata dengan perkataan yang baik. Dan rendahkan dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan katakanlah (mohonkan kepada Allah) : Wahai Tuhanku, kasih sayangilah mereka berdua sebagaimana mereka mangasih sayangi (mendidik) aku di waktu kecil”. Seberapa pun hebatnya, sampai dimanapun kedudukan dan jabatan kita, sungguh tidak akan ada keberkahan tanpa restu kedua orang tua. Rumah tangga yang dibangun tanpa restu keduanya tidak akan meraih kebahagiaan. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam memilih jodoh, jangan sampai tanpa restu keduanya. Kalaupun hal itu sudah terjadi cepatlah kembali rujuk kepada mereka, ingatlah kita tidak akan pernah ada kalau mereka tidak ada. Dulu kita hanya anak ingusan, kini setelah menjadi orang, mengenyam pendidikan tinggi, dan punya penghasilan sendiri, lalu adakah hak kita untuk mengabaikan dan tidak menghargai mereka, padahal kita mengenyam pendidikan tinggi dan menjadi orang, adalah hasil jerih payah mereka, siang dan malam memikirkan kita, peras keringat, banting tulang demi biaya pendidikan kita. Sungguh tidak ada hak untuk berlaku durhaka pada mereka. Kedudukan orang tua sangatlah mulia, walau jahat dan kafir sekalipun, kita tidak berhak berlaku kasar pada mereka. Sekali ibu kita berkata dengan sumpahnya, sungguh kutukannya akan menjadi kenyataan. Firman Allah dalam Surah Luqman ayat 15 : Artinya : Dan jika keduanya memaksamu mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergauililah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kemabalimu, maka kuberitakan kepadamu apa yanag telah kamu kerjakan. Begitupula dalam hal kebaikan jangan lupa kita minta doakan kepada mereka, karena doa orang tua diijabah oleh Allah, sebagaimana sabda Nabi: Doa orang tua terhadap anaknya seperti doa nabi terhadap umatnya. Masih ingat hikayat Sahabat Rasul yang bernama Al Qamah? Hendaknya menjadi peringatan dan pelajaran bagi kita. Kita juga bisa mengambil pelajaran atas peristiwa yang terjadi pada tetangga saya. Tepat pada malam 26 Ramadan 1431 H, sekitar jam 3 dini hari terjadi musibah terbaliknya mobil yang ditumpangi sekitar sebelas penumpang remaja yang melakukan aktivitas bagarakan sahur. Semua penumpang luka-luka, dan satu orang yang terparah, kedua pangkal pahanya patah. Ternyata yang terparah ini memang termasuk anak yang bandel, sering menyakiti hati ibunya dengan perkataan dan perbuatannya. Setelah kejadian itu ibunya bercerita bahwa sebagai ibu bukannya tidak pernah menasehati anak, sudah sering memberikan pengertian, namun apabila diberikan nasehat selalu membantah. Bahkan anak itu berkata pada ibunya: Haah ! buat apa sempian menegur (menasehati) ulun (saya), Bisaai Tuhan menegur ulun. Ternyata kata-kata anak itu jadi doa, Allah memberikan teguran kepada anak itu melalui kejadian tersbut. Dari cerita tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa kebanyakan anak kualat karena durhaka pada ibu. Begitu juga keselamatan, kesuksesan dan kemuliaan karena bakti terhadap ibu. Diceritakan bagaimana seorang pemuda pada zaman Nabi Musa, mendapat kedudukan berdampingan dengan Nabi Musa di syurga, lantaran baktinya pada ibunya yang sudah sepuh, mulai dari memandikan, menggantikan pakaian ibunya, sampai menidurkan di dalam ayunan, serta memberikan makanan pada ibunya dilakoni dengan penuh khidmad. Ketika sipemuda menyuapi makanan pada ibunya, ibunya pun menangis, beruntung aku dikaruniai seorang anak, walaupun ia laki-laki tidak kalah baktinya dengan anak perempuan. Disaat itulah sambil menangis ibunya yang sudah sepuh itu berdoa” Ya Allah jadikanlah anakku sekedudukan dengan Nabi Musa di dalam syurga”. Wahai Saudaraku seiman, pantas kalau Rasulullah ketika ditanya oleh sahabat, siapa yang lebih utama dari kedua orang tua untuk mendapat kebaktian dengan jawaban: Ibumu, lalu siapa lagi? ibumu, lalu siapa lagi? ibumu, lalu siapa lagi ya Rasul? ayahmu. Ya Allah ampuni dosa kami, kalau dulu perkataan dan perbuatan kami melukai hati orang tua kami. Ampuni dosa kami, kalau dulu kami sering mengabaikan nasehat-nasehat mereka, ampuni kami jika kami belum bisa membahagiakan mereka. Ampuni jika kami belum bisa memberikan kebanggaan pada mereka. Ampuni kami jika kami termasuk orang yang durhaka. Ya Rab, ampuni dosa keduanya dan kasih sayangi keduanya sebagaimana mereka mengasih sayangi kami diwaktu kecil. Jadikan kami ya Allah termasuk anak yang berbakti kepada mereka dan tahu membalas jasa, semoga dengan itu anak –anak kami juga menjadi penyejuk mata kami, sebagaiman sabda Nabi Mu “ Berbaktilah kepada orang tuamu, niscaya anak-anakmu akan berbakti kepadamu”. Amin ya rabbal alamin. Rumah Terakhir. Tidak disangka, ajal datang tidak terduga, ajal menjemput dimana dan kapan saja. Habis salat Ashar saya mendapat SMS dari keluarga yang mengabarkan bahwa Kakak masuk rumah sakit tadi pagi, dan sekarang dalam keadaan kritis. Saya bersama isteri bergegas menuju rumah sakit. Setiba di rumah sakit, ternyata isak tangis sang cucu dan anak serta saudara yang lain terdengar menyayat perasaan. Inna lillahi wainna ilaihi rajiun. Telah berpulang kerahmatullah Saudariku Hj. Normaliah binti H. Kursani pada hari Selasa, tanggal 21 September 2010 bertepatan 12 Syawal 1431 H, jam 17.00 Wit di Rumah Sakit Pembelah Batung Amuntai. Seriawan yang diderita, berujung dengan kematian, padahal sebelumnya sehat-sehat saja, tidak terdengar keluhan, eh ternyata setelah dicek, kadar gula sangat tinggi, komplikasi darah tinggi dan jantung. Semua itu hanya sebab, pastinya semua kita akan menemui ajal. Jenazah disemayamkan di rumah duka, menjelang magrib kami sekeluarga dan masyarakat yang takziah membaca Surah Yasin, Al Mulk dan bacaan lainnya. Tidak terasa air mata ini mulai menetes. Bukan tangis penyesalan, bukan pula tangis menyangkal takdir Tuhan. Air mata yang mengalir ini perwujudan jalinan kasih sayang terhadap Saudara, Walau bukan saudara kandung, saudari ipar dari isteri saya (Saudari Miruai dari saya). Cucuran air mata mengiringi bacaan Surah Yasin, saya teringat dan menerawang dan bertanya dalam hati, apakah menjelang ajalku nanti, dapatkah saya menuturkan kalimat La ilaha illallah, apakah anak dan saudara-saudaraku seiman akan membacakan Yasin dan bacaan lainnya, sebagaimana yang aku lakukan sekarang. Aku Teringat rumah yang aku tempati sekarang hanya sekadar hak pakai, bukan hak milik pribadi, ingin rasanya punya rumah sendiri. Pikiranku terus berjalan bagaimana dengan rumahku yang terakhir, rumah yang lebarnya tidak lebih dari satu meter. Sudahkah aku siap menempati rumah itu, cukupkah sudah bahan dan alat yang diperlukan membangun rumah terakhir? Aku semakin terisak. Bacaan Yasin dan doa selesai. Keesokan harinya, Rabu Tanggal 22 September 2010 sekitar jam sebelas jenazah dimandikan, lalu dikafani, derai air mata terus mengalir dari anak dan cucu serta saudara, ciuman terakhir pun diberikan. Setelah disalatkan di Mesjid Baitul Ma`ruf Panangkalaan, Jam satu siang diantar ke pemakaman. Tabala atau peti janazah sudah dipersiapkan, perlahan mayat diturunkan dan dimasukkan dalam tabala, kain tali pengingat satu persatu dilepaskan, penutup muka lalu dibuka lalu diciumkan pada segumpal tanah, jari-jemari kaki pun di rekatkan ke tanah, dirasa cukup peti kembali di tutup. Perlahan peti jenazah diturunkan ke liang lahat, Bismillah, fisabilillah, wa`alamillati Rasulillah, Allahumaftah abwabassamai liruhiha, Allahumma inna na`uzubika minasyaithanirrajim, wana`uzubika min `azabil qabri wa`azabinnar. birahamatika ya arhamarrahimin. Setelah peti jenazah sampai di liang lahat, siap ditimbun dengan tanah. Sebelumnya diawali dengan raupan tanah pertama dengan bacaan doa, minha khalaqnakum Allahumma laqqinha `indal mas alati hujjataha, raupan tanah itu pun dimasukkan ke liang lahat, dilanjutkan dengan raupan tanah kedua dengan doa wafiha nu`idukum Allahum maftah abwabas sama-i liruhiha, selajutnya raupan tanah yang ketiga dengan doa waminha nukhrijukum taratan ukhra Allahummajafilardha `anjambaiha. Kemudian prosese pemakaman dilajutkan dengan menguruk tanah ke liang lahat dengan iringan bacaan surah Yasin. Pemakaman pun selesai. Selanjutnya pembacaan talqin dilaksanakan oleh tiga orang. Ada banyak peringatan dan pelajaran yang bisa kita ambil dari proses pemakaman ini. Pertama, Kita diingatkan bahwa kita dijadikan dari tanah, bermakna kerendahan diinjak dan menanggung beban tanggungajawab, amanah, hina. Maka wajah yang cantik dan muka yang gagah adalah amanah yang perlu pertanggungjawaban, bukan untuk disombongkan dari peringatan-peringatan Allah. Kita sama berasal dari sari pati tanah, yang terpancar dari kedua orang tua kita, air yang hina, dengan kekuasaan Allah menjadi segumpal darah, kemudian menjadi segumpal daging, menjadi tulang belulang dan ditiupkan roh jadilah bayi yang tidak mengetahui apa-apa. Pantaskah kita berlaku sombong dengan Allah yang ,menciptakan kita, pantaskah kita membangkang dengan perintahnya.? Yang kedua kita diingatkan bahwa kita semua akan mati, perhatikan doa dan bacaan pada raupan tanah yang pertama bermakna, dari tanah kamu dijadikan, ya Allah berikanlah bimbingan jawaban ketika Munkar dan Nakir menanyanya. Dan ke dalam tanah engkau dikembalikan, ya Allah bukakan pintu langit untuk rohnya. Dan dari tanah engkau dibangkitkan pada kesempatan yang lain (hari kiamat menuju padang makhsyar) ya Allah luaskanlah tanah kuburnya. Yang ketiga, mengingatkan kepada kita berapapun harta yang kita miliki akan kita tinggalkan dan yang kita bawa hanya tiga lapis kain kafan, pakaian yang serba mahal dan perhiasan yang gemerlap kita tanggalkan. Ingat ketika Penakluk dunia Iskandar Zulkainain meninggal dunia, beliau sebelumnya berwasiat agar apabila meninggal dunia, ketika mengantar jenazahnya ke pemakaman supaya kedua tangannya dijulurkan keluar supaya orang lain mengambil pelajaran bahwa sehebat apapun Iskandar Zulkarnain, sekarang kedua tangannya kosong tanpa membawa apa-apa. Pupur dan lepstek yang serba mahal berganti dengan bedak cendana, pakaian yang mahal berganti dengan kain kafan, gedung dan rumah mewah berganti dengan tanah pekuburan yang sempit, gelap, dan pengap. Wajah yang cantik dan rupa yang gagah, batang tubuh yang dulu dibangga-banggakan kini siap menjadi santapan cacing tanah. Kuburan adalah Rumah terakhir di dunia. Rumah peristirahatan pertama di akhirat, menunggu datangnya hari kiamat, apakah kediaman itu akan menjadi siksa ataukah mendatangkan nikmat? Apakah kita akan dapat menjawab semua pertanyaan Malaikat Munkar dan nakir di dalam kubur? Perjalanan kita masih panjang, kita masih berada di alam dunia, menuju alam kubur, setelah itu dibangkit menuju padang makhsyar setelah hari kiamat, dihisab ditimbang, meniti titian shiratalmustaqim dan berakhir disyurga ataukah neraka. Rumah peristetirahatan kita yang terakhir sudah menanti, bekal apa yang akan kita persiapkan dan yang akan kita bawa ke sana. Saya teringat perkataan Saidina Umar, orang yang masuk ke alam kubur tanpa bekal seperti orang yang mengarungi lautan tanpa bahtera.